Wednesday, 4 July 2018

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani?

Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yang mampu membuatku bermimpi menggapainya karena bahkan lewat gambar pun ia tampak sangat mempesona. Gunung berapi aktif tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci ini tetap menjadi impian sampai akhirnya Rifian menyebutnya kembali juli 2017 lalu.

"Aku naik Rinjani dulu yaa.. baru kita persiapkan pernikahan kita" katanya waktu itu.

Spoileeer.. haha
Map Pendakian Rinjani

Dia berencana  naik dengan teman asal Lombok (Rozi) yang baru dikenalnya di Bali juni lalu. Aku ingin ikut sih, cuma sadar diri setelah mencari tahu tentang track Rinjani yang bikin jiper dan baper, serta kondisiku yang tidak bisa jalan cepat takut malah merepotkan, akhirnya aku tidak mengatakan padanya kalau aku juga ingin sekali naik gunung itu. Dua minggu terakhir sebelum berangkat sepertinya koneksiku nyambung dengan dia. Dia mengajakku ikut pendakian karena temannya, Rozi, mengajak teman kerjanya sebanyak 11 orang dan 2 diantaranya cewek. Jumat sore, tanggal 4 Agustus aku baru mengabarkan bahwa aku dapat approval cuti seminggu dan langsung beli tiket ke lombok untuk Minggu pagi (dadakan ya? haha). Agak deg-degan juga karena nggak sempat latihan fisik, tapi bismillaah aja lah yaa..

Our team

6 Agustus 2017
Bandara International Lombok
Naik penerbangan Citilink jam 5.15, kami tiba di Bandara International Lombok jam 8 WITA. Ada perbedaan waktu satu jam disini dengan Jakarta. Kami dijemput sepupunya Rozi untuk menginap di rumahnya, Kopang, Lombok. Kopang ini letaknya agak ke Utara Lombok, Mendekati gunung Rinjani. Walaupun masih di bawah, malam disini sudah dingin sekali.


Air Terjun Benang Stokel

Menunggu Rozi pulang, kami diantar berjalan-jalan dulu ke air terjun Benang Stokel. Naik motor, kami menikmati keindahan pedesaan di Lombok. Saya sudah pernah beberapa kali mengunjungi Lombok, tapi hanya di sekitar daerah pantai. Kali ini, saya menikmati sisi lain Lombok, yaitu sisi pegunungannya.





Pintu Masuk Geopark

Air Terjun Benang Setokel memiliki 2 terjunan air yang berketinggian sekitar 30 meter.  Air terjun disebelah kiri memiliki debit yang lebih besar dibandingkan yang kanan.  Sementara itu di bawahnya terdapat kolam kecil tempat penampungan curahan air yang jatuh dari atas.  Kolam ini dapat digunakan untuk mandi dan berenang.  Air terjun ini berada di ketinggian 552 m dari permukaan laut (dpl) di kawasan Wisata Taman Nasional Gunung Rinjani.

Nama Benang Stokel dalam bahasa setempat berarti segumpal benang.  Nama ini diberikan karena bentuk air terjun ini menyerupai benang yang diikat menyatu.  




Ini air terjunnyaa
Sekitar 500 meter ke bagian hulu atas dari lokasi Air Terjun Benang Stokel terdapat juga air terjun yang bernama Air Terjun Benang Kelambu.  Air terjun ini bersumber langsung dari mata air besar yang menyembul di puncak gunung.  Untuk menuju Air Terjun Benang Kelambu tersebut harus melewati jalan setapak  sejauh 1 km (dengan waktu tempuh sekitar 30 menit) menembusi hutan tropis dengan lembah dan bukit yang terjal. (cr : https://sites.google.com/site/wisataairterjun/nusa-tenggara-barat/air-terjun-benang-stokel )

Akses ke air terjun Benang Stokel ini cukup mudah dijangkau, dengan motor tentunya. Perjalanan menuju air terjun pun tidak sulit dan tidak begitu jauh dari pintu masuk. Hanya saja waktu pulang agak menanjak sih, lumayan lah jadi pemanasan untuk naik Rinjani.

Jalan menuju Air Terjun
Sorenya Rifian ikut Rozi briefing dengan teman-temannya di Mataram sekalian membeli kebutuhan logistik kami selama  5 hari ke depan. Rencananya semua teman Rozi akan menginap di rumahnya. Jadilah aku ditinggal. Hiks.


7 Agustus 2017

Kami akan melakukan pendakian melalui jalur Sembalun. Habis shubuh kami berangkat menuju Sembalun Lawang di desa Senaru (1156 mdpl). Sekitar 3 jam perjalanan dengan mobil bak terbuka cukup membuat kami semua menggigil kedinginan.

Sampai disana kami mengantri  memperoleh Simaksi untuk 5 malam @35rb. Sudah banyak pendaki yang mengantri di depan kami terutama wisatawan luar negeri. Biasanya mereka mendaki PP 1 hari saja dan hanya sampai Plawangan Sembalun. Banyak juga sih yang melanjutkan sampai puncak. Mereka kebanyakan menyewa porter lokal yang membuat kami mupeng pengen digendong porternya juga. Setelah daftar, Kami  mendapatkan 2 buah kantong sampah berwarna oranye (sampah harus dibawa turun kembali). Petugas juga mewanti-wanti agar kami tidak memetik bunga edelweiss *berita pendaki yang nakal terpampang besar di kantor SIMAKSI sebagai peringatan untuk pendaki lainnya.


Sembalun Lawang - Pos 1 (1300 mdpl)

Pemandangan pendakian awal dari Basecamp Sembalun.. dataaar..
Masih dataar..

Jam 9 pagi kami baru berangkat mendaki. Tracking awal masih berupa ladang penduduk yang luas. Setelah itu kami bertemu savana yang sangat luas dan seperti tidak ada pohon besar. Sebenarnya jalan awal ini belum begitu menanjak, hanya saya panas terik pulau Lombok yang membakar cukup menguras tenaga. Belum lagi ternyata aku masuk angin gara-gara naik pick up pagi-pagi, jadilah badanku sangat tidak enak dan akhirnya aku muntah-muntah (abis muntah dan minum teh anget alhamdulillah enakan sih). Heran anak-anak Lombok ini kok nggak ada yang masuk angin. Haha.

My favourite one..
Melanjutkan perjalanan yang masih berupa savana yang luas dan gersang. Panas terik tanpa ada pohon untuk berteduh menambah lengkap perjalanan kami. Ternyata bukan hanya aku yang tidak fit. Setelah aku membaik dan bisa berjalan, kini giliran Rifian yang sepertinya kurang fit. Jadilah kami berdua jalan paling belakang perlahan-lahan yang penting sampai tujuan. Di tengah jalan aku berkenalan dengan 2 adik kecil sekitar umur 10 tahun yang membawa minuman di tasnya (katanya mau berjualan minuman di atas). Dua anak inilah yang menyemangatiku untuk terus maju dan bilang akan menungguku di Plawangan Sembalun. Anak kecil inilah yang nantinya memberikan aku Pocari Sweat setengah harga (dari 30rb menjadi 15rb) di Pos 3. hohooo..

Berkabut euuy
Melewati pos 1 (kurang lebih 2 jam, kami memandang iri kelompok pendaki (turis asing) yang sedang makan semangka *enak banget panas-panas begini makan semangka. Mereka menyewa porter, dan ternyata porter tersebut membawa meja dan kursi lipat juga (berasa naik gunung sambil piknik lah). Porter disini bisa diacungin jempol deh sampe jempol kaki. Mereka bisa membawa barang-barang seberat ini dengan berlari. Ampun deh, aku aja nggak bawa apa-apa juga ngos-ngosan kali.


Pos 1 - Pos 2 (1500 mdpl)


Sampai di Pos 2

Perjalanan ke pos 2 masih didominasi bukit teletubbies yang gersang tanpa ampun. Savana terbentang luas di kanan kiri kami. Tipikal daerah yang kering air, jarang ada tumbuhan-tumbuhan tinggi. Sinar mentari makin garang seakan-akan mau memanggang kita. Benar-benar menguras tenaga. Sekitar jam 1 siang kami sampai di Pos 2 dan istirahat makan serta shalat. Di pos 2 ini ada air *walaupun sedikit yang kami gunakan untuk minum dan berwudhu. Airnya nggak enak sih rasanya dan benar-benar kotor.

Nggak ada pohon.. pegangan aja.. wkwkwk


Pos 2 - Pos 3 (1800 mdpl)


Jalan santai.. yang lain di depan.. hahaa
Perjalanan ke pos 3 mulai menanjak walaupun masih berupa bukit teletubbies. Kabut pun mulai turun menyajikan pemandangan yang indah sekaligus berkesan misterius. Beneran deh ini kayak lapangan luas dimana cuma ada aku dan kamu. Eaaaa.. . Melawan keletihan, kami mulai mengalihkannya dengan berfoto dengan bermacam gaya. Berhubung semua sudah di depan, jadilah kami pakai tripod. Kalau kata anak-anak yang lain sih kenapa nggak sekalian pre-wed.. wkwkwk..

Jalan Teruss

Mendekati pos 3, lebih banyak pohon daripada sebelumnya yang hanya rerumputan saja. Terlihat ada satu-dua pohon yang tinggi Aku berhenti di gazebo tempat beberapa teman pendaki berkemah. Ternyata mereka Ibu dosen dan 3 anak didiknya yang mencoba tantangan baru.  Setelah banyak ngobrol, aku baru menyadari anak kecil tadi berjualan di depan gazebo ini. Dia mendirikan tenda sebelum sambil berjualan sebelum besok melanjutkan ke Plawangan Sembalun. Disinilah aku mendapatkan pocari sweat setengah harga. Padahal aku tidak menawar loh. Dia bilang "Untuk kakaknya 15rb aja lah". hohooo. Aku lumayan lama berhenti disini karena menunggu Rifian dan teman-temanku yang lain mengambil air di mata air bawah. Kami berencana membuat tenda di Pos 3 karena hari sudah menjelang malam. Kami mendirikan tenda di gua sehingga kami tidak terkena terpaan angin malam. Tubuh yang letih membawa kami terlelap malam itu.

Pos 3





















8 Agustus 2017

Pos 3 - Plawangan Sembalun (2639 mdpl)

Berdoa dulu ya guys
Jam 8 pagi kami berangkat dari Pos 3 menuju Plawangan Sembalun. Berhubung aku berangkat pendakian ini dadakan, aku nggak sempat mencari tahu tentang track pendakian ini. Sinyalku juga tidak bagus sewaktu di Kopang, jadi aku memang blank dan menyerahkan semuanya pada Rifian. Sebelum berangkat ke Plawangan Sembalun, Rozi menyebut- nyebut kita akan melewati 7 Bukit Penyesalan baru sampai Plawangan Sembalun. Waktu mendengar pertama kali, keningku berkerut heran karena namanya lucu sekali. Aku bertanya-tanya kenapa diberi nama seperti itu.

7 Bukit Penyesalan

Mulai naik..
Naik teruuuss

Bukit pertama, aku bisa melihat puncaknya dari bawah dan berjalan dengan semangat 45. Panas terik mulai terasa membakar kulit. Aku terus berjalan sampai titik yang "aku kira" puncak. Ternyata, sampai puncak terbentang bukit yang lagi-lagi aku masih dapat melihat puncaknya. Ngomong-ngomong, kalau bukit kan harusnya ada turunan atau lembah dulu kan ya baru naik lagi? Ini sih boro-boro ada jalan turun, yang ada kita disajikan tanjakan lagi yang lebih yahud dari sebelumnya. Lebih curam dari sebelumnya. Dua bukit berlalu dan aku belum pernah menemukan lembah. Selalu begitu. Ketika dipuncak, kita akan disajikan bukit selanjutnya tanpa ampun. Seakan tidak ada habisnya.

Istirahat di entah bukit berapa
Beranjak naik bukit keenam dan hari menjelang sore, aku mulai berfikir "Ngapain sih aku menyiksa diri sendiri dengan melakukan pendakian ini? kurang kerjaan apa? Kenapa sih aku disini?" letih, kesel sendiri, sensitif, akhirnya aku mewek. Hal sekecil apapun yang Rifian lakukan (seperti berjalan mendahuluiku nggak sampai 100 meter) aku menangis. Aku bersembunyi di belakang batu besar agar nggak dilihat olehnya. Malu lah masa nangis sih? Sampai-sampai aku ditanyain bule-bule yang lewat "Are u okay?" bahahahaa. Setelah puas nangis, aku menyusul Rifian. Niatnya sih biar nggak ketahuan, tapi sepertinya muka merahku nggak bisa disembunyiin. Ketika dia nanya, jadi keluar lagi deh semuanya. Untungnya dia cuma bilang "Iya nggak papa..", nggak ketawa, dan nyuruh aku keluarin semuanya sampai tuntas. Beneran habis nangis aku lega banget dan bisa melanjutkan sisa perjalanan sampai Plawangan Sembalun. Intinya, aku benar-benar mengerti kenapa bukit-bukit ini dinamakan "7 Bukit Penyesalan" wkwkwk

Masih harus ke ujung situuu... ibuuuuuu..

Plawangan Sembalun (2639 mdpl)

Plawangan Sembalun, keren kaan
Sebelum sampai tenda pose dulu laah

Menjelang senja sekitar jam 5 sore kami sampai juga di Plawangan Sembalun. Itupun dijemput sama anak-anak yang lain dan kerilku dibawa mereka. Mereka sudah mendirikan tenda sebanyak 3 buah dan mulai memasak. Ternyata beberapa temanku ini adalah porter Rinjani. Jadilah mereka sudah lihai menyiapkan makanan. Aku? istirahat aja.. wkwkwkwk..

Mau komen apa? mangap dan hanya bisa mengucap subhanallaah..
Di Plawangan Sembalun ini sudah terlihat kawah di bawah. Ternyata plawangan itu memang bibir kawah ya artinya.. haha.. Pemandangan disini sunguuhh indah! Apalagi waktu kami sampai berasa ada di negri atas awan. Camp di plawangan ini tertutup oleh awan, menyelimuti tebing-tebing dan menutup sebagian pemandangan ke arah kawah.

Yeaaayy.. tenda udah keliataaan
Ini dia camp kita guuyss

Berhubung disini banyak air, aku menyempatkan mandi sore walau dinginnya masya Allaah. Tapi sehabis mandi, badan menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Mandi, shalat, makan, akhirnya kami semua istirahat untuk berangkat besok jam 2 pagi ke puncak.

Mau mandi aja pemandangannya kayak gini.. bertabur edelweiss


9 Agustus 2017

Plawangan Sembalun - Summit Rinjani (3726 mdpl)

Jangan kira itu ujungnya.. sampai atas kamu akan sadar bahwa kamu di PHP!!!
Jam 11 malam pada saat aku baru mau benar-benar tertidur, anak-anak udah pada berisik, padahal jam 2 kami baru mau berangkat. Alhasil aku tidak bisa tidur. Jam 2 pagi kami berkumpul dan berdoa untuk memulai perjalanan ke puncak. Pertama-tama kami masih jalan bersama. Jalan yang kami lalui juga masih berupa tanah padat. Beberapa lama kemudian jalan berubah menjadi pasir. Mendaki melalui pasir ini sangat menguras tenaga karena licin. Saat kita berusaha naik 1 langkah, turunnya bisa 3 langkah. Haha. Berhubung pendakian sedang ramai (lebih banyak turis) dan aku jalannya kayak keong, jadilah Aku dan Rifian terpisah dari yang lain.

Gara-gara ketiduran sunrisenya masih di bawah.. haha
Sunrise dan Edelweiss? apalagi yang dapat membuat sempurna? kamu tentunya.. 

Setengah perjalanan, aku merasa sangat mengantuk. Akhirnya aku mencari tebing untuk tidur (ternyata aku tidur hampir 2 jam) haha. jam setengah 6 kami baru jalan kembali ke arah puncak. Track mulai menyempit dengan kanan kiri jurang. Tepian jurang dihiasi bunga-bunga edelweiss yang cantik. Hawa pagi yang semakin dingin dan udara yang semakin tipis membuatku agak sulit mempertahankan langkahku. Belum lagi track yang masih terus berpasir.

Keliatannya deket kan itu ujungnya? ya kan? ya kan?
Nah kalau jalannya batu plus pasir gini sih yaa.. satu langkah maju mundurnya 2 langkah.. haha

Awalnya aku kira kami sudah mau sampai ke puncak (beneran kelihatannya deket banget di ujung mata). Tapi ternyata, kami masih harus berbelok satu tikungan dan barulah kelihatan jalur terakhir menuju puncak Rinjani yang membentuk huruf S. Btw, ini gunung kok sukanya PHP ya, kemarin aku di PHP bukit penyesalan dengan 6 puncak bayangan, eh sekarang... Dari bawah jalur S ini kelihatannya sih dekat ya, tapi pada kenyataanya aku membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai ke atas karena energi terkuras medan berpasir. Apalagi aku belum sarapan hiks.

Melihat ke bawah.. ternyata udah sejauh dan setinggi ini

Di tengah jalur S ini aku bertemu pendaki yang sebelumnya pernah mengobrol sama Rifian di entah pemberhentian mana. Alhamdulillaah kami diberi agar-agar coklat yang tentunya menambah energi untuk sampai puncak. Kami juga bertemu porter yang bilang kalau sudah siang awannya akan menutupi danau segara anak dan pemandangannya menjadi kurang bagus. Akan tetapi, tekadku sudah kuat walau terseok-seok aku akan menginjakkan kakiku di salah satu 7 Summit Indonesia ini (ya iyalah nanggung udah di depan mata cobaa). Kata orang, umumnya mereka hanya memakan waktu  3-4 jam untuk sampai ke puncak dari Plawangan Sembalun. Nyatanya, total aku mencapai puncak itu 8 jam! Bahahaa.. yup.. jam 11 siang hari bolong aku baru menginjakkan kakiku di Puncak Rinjani.

Alhamdulillaaah sampe jugaaa *cool version
Behind The Scene  *tadinya ga mau foto karena dekil kucel kumel bau dan capek bangeet
Di puncak, cuma tersisa 2 rombongan. Aku Rifian dan Rozy yang menunggu kami di puncak, serta rombongan yang memberi aku agar-agar tadi. Alhamdulillaah ada untungnya juga jalannya lama, jadi sepi dan puas menikmati summit tanpa harus berdesak-desakkan. Untungnya juga tidak ada awan yang menutupi danau Segara Anak seperti yang porter itu bilang.

Pemandangan di atas ini Soooooo Amaziiiiing! Kereen Banget! nggak nyesel udah tertatih-tatih sampe puncak. Nggak nyesel sampe nangis-nangis drama lewat 7 bukit penyesalan. 

Ya Allaah mukaaa.. untung backgroundnya bagus..
Subhanallaah.. nggak pernah menyangka aku bisa sampai disini. Kami mengambil foto di summit walau tadinya aku ilfeel sama mukaku sendiri yang amat sangat kucel bin kumel bin dekil. Setelah aku pikir-pikir kayaknya aku bakal nyesel kalau nggak foto, akhirnya aku berfoto juga. Bahahaaa.. Pemandangan disini sangat indah sih, hanya saja panas teriknya itu loh yang membuat kami ingin segera turun.

Ditungguin Rozzy di atas
Turun dari summit ternyata lebih mengerikan lagi. Dari atas, track rinjani ini terlihat seperti perosotan panjang.  Jalan setapak yang kanan kiri jurang, penuh batuan dan pasir vulkanik warna putih terang, dan baru aku sadari ternyata curam bangeeeet, aku jadi deg-degan mau turun. Yah, waktu naik kan ngeliatnya ke atas yaa, jadi nggak sadar kalau curam. Akhirnya waktu turun ini aku dan Fian benar-benar main perosotan secara harfiah sambil hati-hati agar nggak kebablasan merosot ke jurang. Hiyyy.

Alhamdulillaah
Hal yang lebih berat adalah, persediaan air minum kami sudah hampi habis. Padahal dengan track seperti ini dan teriknya siang membuat kami sangat kehausan. Air yang tersisa kami irit-irit untuk perjalanan sampai ke Plawangan Sembalun tempat kami berkemah. Memang kuasa Allah, di tengah perjalanan dimana air kami sudah habis dan perjalanan kami masih cukup panjang, kami bertemu si Ibu dosen dan ketiga anak didiknya yang kemarin mengobrol denganku. Kami diberi air setengah botol 1,5 liter. Alhamdulillaah. Aku tahu Rifian sudah sangat haus tapi dia memberikan sisa airnya untukku. Akhirnya air itu aku kasih ke Rifian dulu. Perjalanan turun kami hanya membutuhkan waktu 1.5 jam. Jam setengah 2 kami sampai di Plawangan Sembalun. Kami langsung makan siang dan beristirahat karena sore nanti kami akan melanjutkan perjalanan turun ke Danau Segara Anak. Rencananya jam 2 kami berangkat, tetapi hujan turun sangat deras membuat kami meringkuk di tenda sampai sore. Perlahan aku merasakan kepalaku berat dan sakit sekali. Mungkin karena telat makan dan kepanasan plus kedinginan ditambah lagi dehidrasi.


Plawangan Sembalun - Danau Segara Anak (2000 mdpl)

Sore hari sekitar jam 4 kami berangkat menuju Danau Segara Anak. Kepalaku yang makin sakit akhirnya didopping pakai Bodr*x yang langsung manjur. Itupun tas kerilku dibawa oleh Rozy. Perjalanan ke danau ini didominasi oleh jalan setapak berbatu-batu besar. Kemungkinan batuan vulkanik sisa-sisa letusan gunung Rinjani. Bahkan aku sampai merayap dan loncat untuk turun dari satu batu ke batu yang lain. Nggak kebayang deh kalau harus naik lagi ke Plawangan Sembalun. Itu dipikir besok saja kalau mau pulang. Rencananya memang kita akan kembali pulang lewat Sembalun. Fisik yang sudah nggak oke membuatku cepat lelah. Aku merasakan sepertinya tubuhku mulai demam.

Danau Segara Anak
Aku dan Rifian sampai di Danau Segara Anak jam 8 malam. Suasana di danau gelap sekali tidak terlihat apa-apa kecuali beberapa tenda dengan penerangan minim. Setelah makan malam aku langsung beristirahat di tenda berhubung besok kami akan melakukan perjalanan pulang. Sedangkan Rifian mandi dulu bersama anak-anak lain di sumber air panas yang disebut Aik Kalak.

Rawa berisi aik kalak (air panas) di Danau Segara Anak


10 Agustus 2017

Danau Segara Anak
Danau Segara Anak dan Gunung Anak Baru Jali
Suasana pagi di danau Segara Anak
Pagi hari, akhirnya terlihat pemandangan luas nan indah danau Segara Anak. Barulah aku merasa benar-benar berada di tengah kawah. Sungguh pemandangan pagi yang indah. Aku duduk di batuan tepi danau sambil menikmati pemandangan danau, ditambah lagi segelas teh hangat dan kopi. Lengkap sudah. Beberapa temanku sudah siap dengan alat pancingnya. Mereka memang sudah berniat mau memancing disini. Sekaligus mencari tambahan lauk untuk makan kami hari ini.

Ngupi duluuuu
Segara Anak adalah danau kawah Gunung Rinjani, tepatnya di desa Sembalun Lawang, pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Nama Segara (bahasa Jawa untuk laut) Anak berarti anak laut diberikan untuk itu karena warna biru mengingatkan danau laut. Danau ini terletak pada ketinggian kurang lebih 2000 mdpl. Jika seorang pendaki mendaki gunung Rinjani (3726 Mdpl), umumnya mereka akan melintasi danau ini dan bermalam di sana. Danau Segara Anak luasnya 1.100 ha dengan kedalaman 230 m. Dari danau terlihat sebuah gunung volcano (Gunung Baru Jari yang berarti gunung baru jadi) yang merupakan anak Gunung Rinjani. 


Perfect Dating.. ups.. haha

Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.Untuk mengunjungi Danau Segara Anak dari jalur Senaru dibutuhkan waktu tempuh sekitar 7 – 10 jam berjalan kaki (± 8 Km) dari pintu gerbang jalur pendakian Senaru. Sedangkan dari jalur pendakian Sembalun ditempuh dalam waktu 8 – 10 jam. Danau segara anak dengan ketinggian ± 2.010 m dpl dan kedalaman danau sekitar ± 230 meter mempunyai bentuk seperti bulan sabit dengan luasan sekitar 1.100 Ha.(cr : wikipedia indonesia)


Ikannya besar-besar dan banyak

Aik Kalak

Menunggu yang lain memancing, kami 3 cewek memutuskan untuk mandi di Aik Kalak. Tambah satu lagi dari tetangga sebelah. Aik Kalak, atau yang dalam bahasa Sasak berarti Air Panas, tempat yang satu ini juga di klaim menyimpan sebuah cerita mistis didalamnya. Aik Kalak sendiri berlokasi disekitar lereng Gunung Rinjani. Pemandian sumber air panas yang satu ini dipercaya bahwa dahulu merupakan tempat pemandian dari Jayengrana. Jayengrana sendiri merupakan sebuah tokoh utama dari pewayangan yang popular dikenal dikalangan Gumi Sasak.


Jalan menuju aik kalak

Perjalanan ke Air Kalak memang nggak jauh, tapi tetap aja kita melipir tebing-tebing batu yang agak membuat acara mandi kita menjadi sia-sia karena keringetan lagi sampai tenda. 4 cewek cantik mandi di sungai, untung bukan 7, nanti dikira bidadari turun dari langit mau mandi. wkwkwk. Aku menggunakan kesempatan ini untuk mandi dan keramas karena rambut udah kayak sapu ijuk kusut (nah loh? udah kaku kusut pula). Baunya nggak usah ditanya, jarak 5 meter aja orang bisa pingsan. Kami berempat mencari tempat yang agak tertutup, tapi nggak terlalu ke bawah, karen semakin ke bawah semakin banyak ranjau daratnya. Hiiyy. Banyak bule yang berendam disini juga, bahkan ada yang pakai bikini loh! Niat banget! Nggak kedinginan apa ya?


Danau Segara Anak - Goa Susu

Kolam air hangat di Goa Susu

Pulang dari aik kalak para lelaki sudah tidak ada. Mereka berkunjung ke goa susu. Meninggalkan setumpuk ikan yang siap digoreng. Beneran mereka dapet banyak banget ikannya dan besar-besar pula (ada sekitar 20 ekor). Agak membuat iri tetangga sih sebenernya.. Para tetannga yang kenal kita akhirnya ikut nimbrung makan ikan, sedangkan yang segan akhirnya bersemangat buat cari ikan sendiri. wkwkwk.

Goanya sempit.. konon jadi tempat semedi
Sorenya para lelaki pulang membawa ide baru bahwa kita akan pulang lewat jalur Torean. Awalnya kita mau lewat Senaru biar nggak naik lagi ke Plawangan Sembalun. Tapi melihat kondisi beberapa teman yang nggak oke termasuk aku, kami tidak akan kuat juga jika lewat jalur Senaru yang katanya malah lebih parah dari jalur Sembalun. Alhamdulillaah ada tetangga yang menawarkan pulang bareng lewat jalur Torean yang menurut mereka lebih landai dan lebih singkat perjalanannya. Jalur Torean ini memang jalur tidak resmi, dan banyak jalan bercabang yang sering menyesatkan para pendaki yang belum pernah melewati jalur ini. Sedangkan tetangga kami, sudah berkali-kali lewat jalur tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk ikut mereka dengan menginap dulu semalam di Goa Susu.



Makan sambil merendam kaki di kolam air panas
Perjalanan ke Goa Susu hanya ditempuh sekitar setengah sampai satu jam. Perjalanan ke Goa Susu ini tidak terlalu berat mengingat jalan yang cukup landai disertai semak-semak dan pohon yang lebat. Kami sampai di Goa Susu menjelang magrib dan langsung memasang tenda. Malamnya aku menggigil hebat sampai pakai dua sleeping bag plus jaket tebal pun tidak cukup untuk menghangatkan diriku.

Goa Susu


With Team dan team lain
Goa Susu dipercaya dapat dijadikan media bercermin diri serta sering pula dipergunakan sebagai tempat bermeditasi oleh penduduk setempat. Tempat ini merupakan Goa yang di depannya ada air terjun kecil dan beberapa kolam air hangat yang sangat nyaman dibuat berendam. Jujur aku nggak berani mendekat ke Goa sih, karna perasaanku kok nggak enak ya deket-deket goa ini. Haha. Aku hanya merendam kakiku di kolam air hangat depannya.


11 Agustus 2017

Goa Susu - Pulang via Torean
Menyisir kali
Kali penuh belerang.. jangan diminum ya guys
Menyebrang sungai tanpa jembatan

Jam 7 pagi kami sudah bersiap-siap untuk berangkat dari goa Susu menuju dusun Torean. Kami membawa bekal nasi goreng, tanpa lauk apapun. Maklum sisa bekal kami hanya mi (buat sarapan) dan nasi. Perjalanan melalui jalur Torean ini mempunyai pemandangan yang indah. Awalnya kita disuguhkan pemandangan lembah-lembah yang dihiasi rerumputan. Waktu di bukit kami masih bisa melihat dengan jelas jalan setapak. Akan tetapi ketika turun sungai, sudah tidak ada sama skelai petunjuk adanya jalan setapak. Inilah salah satu bahayanya jika melewati jalur ini. Berhubung kecepatan jalan kami tidak sama, teman-teman kami memberi petunjuk arah berupa tanda panah di atas batang pohon ataupun batu yang ditulis menggunakan kayu arang.


Mulai naik
Naik...
Dan naik lagi...
Menelusuri sungai yang berwarna hijau kekuningan karena belerang, akhirnya sampai pada tebing selanjutnya. Beberapa kali kami naik turun bukit dan tebing. Adapula yang harus memanjat tangga karena kecuraman tebing yang 90 derajat. Aku sih nggak masalah ya kalau naik, tapi waktu turun aku agak kesulitan. Hiks. Drama deh. Beberapa kali kami harus benar-benar melipir tebing yang sebelahnya jurang dalam. Apalagi tebing-tebing ini hanya dihiasi rerumputan yang tidak cukup dijadikan pegangan. Kebayang kan? aku merangkak juga akhirnya. hahaha. Bener-bener nggak lucu kalau menggelinding ke bawah. Kepleset sedikit aja wassalam deh. Ini salah satu lagi bahaya kalau lewat jalur Torean. Kalau memang terpaksa lewat sini jangan malam-malam deh.


Melipir tebing...
Mulai lelah... disuruh melipir tebing mulu padahal takut ketinggian
Di antara tebing-tebing yang kami lewati, ternyata ada air terjun (belakangan aku tahu namanya Air terjun Penimbungan). Air terjun ini kami lihat dari atas tebing. Pemandangan yang indah saat deg-degan melipir tebing. Airnya berwarna hijau toska. Suaranya besar sekali bahkan sebelum kami bisa melihat air terjun itu. Menurut artikel-artikel yang kubaca, tinggi air terjun ini mencapai 100 meter. Airnya bersumber dari Danu Segara Anak. Beberapa saat kami menikmati air terjun tersebut sambil beristirahat. Eh, nggak tahunya dia mempertunjukkan pelangi. Air terjun dan pelangi? perfect.


Air Terjun Penimbungan
Melanjutkan perjalanan, setelah berdrama ria dengan tebing-tebing savana nan panas, akhirnya kami bertemu sungai dengan air yang jernih. Saatnya mengisi botol-botol minum. Setelah sungai, kami mulai memasuki hutan. Nah, bahaya selanjutnya adalah hutan ini. Di hutan ini banyak jalan-jalan bercabang. Untungnya kami ada petunjuk dari teman-teman kami di depan. Selain itu, entah mesti bersyukur atau kecewa, di sepanjang jalan setapak hutan ini banyak bertebaran sampah-sampah. Yah paling nggak bungkus permen yang menandakan pernah dilewati manusia. Jadi secara nggak langsung sampah-sampah ini merupakan salah satu petunjuk jalan kita di jalur ini.


Lelah terobati oleh pemandangan yang supeer

Menjelang tengah hari, aku Rifian dan Rozi (kloter terakhir) beristirahat dan membuka bekal kami berhubung sepertinya maag aku udah kumat dan sebelumnya sempat muntah-muntah sehingga sarapan tadi pagi keluar semua. Buka bekal, rasanya pengen nangis waktu tahu nasinya basi. Untungnya aku masih punya choki-choki dan madu di tas. Jadi untuk melawan perihnya perutku, aku makan choki-choki sepanjang jalan. Jalan selanjutnya masih terus hutan sampai sekitar jam 4 kami bertemu ladang jagung. Ada ladang berarti ada pemukiman. Kami langsung semangat, berarti sebentar lagi kami sampai. Ternyata, ladang itu masih lumayan jauh dari desa di bawah. Kami sampai di titik penjemputan sekitar jam setengah 6 sore.


Laper banget.. eh makanannya basi.. hiks.. akhirnya cuma makan choki2..
Ternyata penderitaan kami belum berakhir. Pick up yang menjemput kami lama sekali datangnya dan pakai nyasar pula. Sudah begitu, ternyata pick up yang dipakai menjemput kami bukan pick up yang sama dengan yang sebelumnya. Pick up yang ini sudah tua sehingga dia tidak kuat membawa kami semua ketika tanjakan. Lebih parah lagi, dia mogok. Kasihan teman-teman cowok yang sudah letih harus mendorong pick up di tanjakan plus ngejar pick up nya (abangnya beneran deh parah banget, udah didorongin, yang ngedorong ditinggal jauh banget suruh jalan).

Kami sampai di rumah Rozi tengah malam, hampir pagi. Padahal mereka harus kerja paginya. Kalau aku sama Rifian sih mengambil penerbangan malam ke Surabaya (berhubung tiket langsung ke Jakarta mahal banget). Kami makan dengan lahap makanan yang disediakan oleh orang tua Rozi. Aku sih nambah loh! Laper banget abisnyaaa...


12 Agustus 2017

Pantai Kuta Lombok
Gunung dan Pantai.. Sempurna

Aku dan Rifian mampir dulu ke pantai Kuta ini sebelum ke Bandara. Menggunakan ojek (tetangganya Rozi) dari Kopang, kami berangkat sekitar jam 1 siang. Perjalanan ke Kuta sekitar 1 jam (itu pun dengan macet karena ada acara baris-berbaris anak SD steempat). Sampai di kawasan pantai Kuta, aku agak bingung karena sekitar 2 tahun lalu disini berbeda sekali. Sekarang sudah banyak penginapan di pinggir pantai, lebih ramai. Kalau dulu jalannya saja sebagian belum di aspal. Pantainya? alhamdulillaah masih tetap bersih walaupun ramai. Salah satu pantai yang aku suka. Sebenarnya aku lebih suka Tanjung Aan yang mempunyai pasir lembut dan lebih putih. Hanya saja aku jadi bingung jalan ke arah sana karena sudah berbeda sekali, dan bapak yang mengantar kami juga tidak tahu lokasinya. Ya sudahlah, lain kali mungkin kami bisa kembali lagi.

cuma duduk aja kok nikmat yaa..

Bermain dengan anak pantai asli..


Dari pantai kami langsung menuju bandara. Kami mengambil penerbangan jam 7 malam ke Surabaya dan melanjutkan penerbangan selanjutnya ke Jakarta esok hari jam 5 pagi. Yup.. selesai sudah perjalanan super panjang penuh drama tapi menakjubkan ini.


Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...