Monday, 10 April 2017

Banting Setir : Gunung Papandayan, 9 - 11 September 2016

Jumpa lagi travellers,

Spoiler : Menuju Tegal Alun si Kebun Raya Edelweiss
Spoiler : Tegal Alun

Isi Kerilku..
Perjalanan kali ini aku mencoba pengalaman baru naik gunung! Trip kali ini diajak temenku Sari, berhubung kita udah sejak Juni nggak nge-trip ataupun jalan bareng karena beberapa insiden yg membuat aku pengen semedi selama Bulan Puasa. Kalau kata Sari sih.. sekalian mau menyelesaikan masalah lama yang belum terselesaikan..wkwkwkk..

Ketika malam persiapan sebenernya aku bingung mau bawa apa aja, kira-kira apa saja yang nggak harus dibawa. Akhirnya berdasarkan pertimbangan ini itu, penuh juga keril 30L aku untuk survive selama 2 hari di Papandayan. Plus bekal matras yoga pinjaman, jaket gunung pinjaman, topi pinjaman, bahkan masker pun minjem! Bahahaa..

Ready to Gooo UJourney Squad : Rifian, Dika, Lusi, Sari, Irwan, Aku, Tiari

Naik.. naik.. ke puncak gunung..
Bela-belain kabur padahal masih miting
Trip kali ini kami bertujuh, lumayan dapat kenalan 4 orang baru karena yang aku kenal hanya Sari dan Tiari. Belakangan aku baru tahu kalau Lusi, Rifian, Dika dan Mas Irwan dulunya teman satu kantor di KITAF.

Kami berkumpul jam 8 malam di McD Fatmawati dan akhirnya "berhasil" berangkat hampir tengah malam. Kami sampai di Garut, basecamp Papandayan sekitar waktu shubuh dan memulai pendakian pukul 8 pagi. Normalnya, pendakian hanya memakan waktu sekitar 2 jam, tetapi kami tempuh menjadi sekitar 4 jam. Berhubung ini pendakian pertama aku Sari dan Tiari, jadilah kita tim hura-hura yang jalannya paling belakang, kerjanya foto-foto, ditemani Rifian tukang foto kami eh, tim sapu bersih maksudnya.. :D

Aku nggak begitu ngerti pos-pos apa yang aku lewatin sih.. aku cuma mikir jalan dan jalan terus.. yang aku ingat kami berhenti di beberapa spot yang salah satunya ada yang jualan cilok. Wahahaa..
Hujan menyapa kami dari awal perjalanan sehingga kami harus memakai jas hujan sepanjang perjalanan.
Ribet banget kayaknya.. hahaa

Sekilas tentang Papandayan (cr : wikipedia)

Do you know? Ini nih yang bikin Nagih...
Belom apa-apa udah ngemut madu..
Gunung Papandayan adalah gunung api strato yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.

Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.

Topografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang terjal. Menurut kalisifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 º C.


Potensi Wisata
Daya tarik Wisata Beberapa lokasi yang menarik dan sering dikunjungi wisatawan diantaranya:
  • Kawah Papandayan Merupakan komplek gunung berapi yang masih aktif seluas 10 Ha. Pada komplek kawah terdapat lubang-lubang magma yang besar maupun kecil, dari lubang-lubang tersebut keluar asap/uap air hingga menimbulkan berbagai macam suara yang unik. 
  • Blok Pondok Saladah Merupakan areal padang rumput seluas 8 Ha, dengan ketinggian 2.288 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini mengalir sungai Cisaladah yang airnya mengalir sepanjang tahun. Lokasi ini sangat cocok untuk tempat berkemah. 
  • Blok Sumber Air Panas Letaknya di perbatasan Blok Cigenah, sumber air panas ini mengandung belerang dan berhasiat dalam penyembuhan penyakit kulit terutama gatal-gatal.
Secara keseluruhan kawasan ini memiliki panorama alam yang indah dengan lingkungan yang relatif masih utuh dan alami yang ditunjang dengan kesejukan udara.

Berasa Petualangan Sherina..

Gosip tetep lanjut yeehh..
Letusan
Dalam catatan sejarah, Gunungapi Papandayan tercatat telah beberapa kali meletus diantaranya pada 12 Augustus 1772, 11 Maret 1923, 15 Agustus 1942, dan 11 November 2002. Letusan besar yang terjadi pada tahun 1772 menghancurkan sedikitnya 40 desa dan menewaskan sekitar 2957 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.

Pada 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan. Pada 25 Januari 1924, suhu Kawah Mas meningkat dari 364 derajat Celsius menjadi 500 derajat Celcius. Sebuah letusan lumpur dan batu terjadi di Kawah Mas dan Kawah Baru dan menghancurkan hutan. Sementara letusan material hampir mencapai Cisurupan. Pada 21 Februari 1925, letusan lumpur terjadi di Kawah Nangklak. Pada tahun 1926 sebuah letusan kecil terjadi di Kawah Mas.

Nah ini fotografer kita akhirnya ikut foto juga..

Sejak April 2006 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Papandayan ditingkatkan menjadi waspada, setelah terjadi peningkatan aktivitas seismik. Pada 7-16 April 2008 Terjadi peningkatan suhu di 2 kawah, yakni Kawah Mas (245-262 derajat Celsius), dan Balagadama (91-116 derajat Celsius). Sementara tingkat pH berkurang dan konsentrasi mineral meningkat. Pada 28 Oktober 2010, status Papandayan kembali meningkat menjadi level 2
Mau simpen aja disini..
Kan udah bilang tadi isinya foto-foto..

Kawah Mas  *kalau nggak salah

Kawah Mas
 Spot pemberhentian pertama (baca : spot foto) itu di kawah ini. Pemandangan yang menarik diselimuti bau belerang yang cukup menyengat. Katanya sih kalau tidak hujan baunya lebih menyengat lagi.. Kami beristirahat disini sebentar sambil mengambil beberapa foto di spot-spot yang menarik. Disini adalah tempat terakhir untuk menerima sinyal hape. Selanjutnya, mari kita terbebas dari hape addicted yeaaay! Bodo amat ga bisa updet juga, mari kita tinggalkan kerjaan dan urusan-urusan lainnya kemudian menikmati keindahan alam ciptaan-Nya ini. Aku pikir, memang sesekali kita butuh menyendiri tanpa adanya hape sih.. enak banget nggak ada yang dipikirin..

UJourney Girls

Akhirnya yg Katanya "Satu Belokan Lagi"

Pondok Saladah

Bersama si Penduduk Lokal
Oke, aku mau ngaku, awalnya anak-anak nyebut pondok ini pikiranku langsung nyambung ke daun selada. Eh, ternyata ini adalah tempat luas dimana tenda-tenda bertebaran. Setelah dibohongin terus sama Rifian yang katanya bentar lagi sampe, dua belokan lagi, padahal masih setengah perjalanan, akhirnya aku menginjakkan kaki disini.

Tenda Kita
Main Masak-masakan
Pemandangan pertama kami adalah kabut dan udaranya dingin banget padahal masih siang. Kami lapor ke pos untuk pendataan dan nggak lupa untuk berpose di depan dong! Aku menyapa kucing lokal yang lucu dan aku ajak dia berfoto bersamaku. Yup, interaksi pertama dengan penduduk lokal Gunung Papandayan.

Camp ini cukup luas, ada tempat terbuka seperti lapangan dan ada juga yang dikelilingi pohon-pohon. Terlihat banyak warung-warung indomi sampai bakso dan cilok bertebaran di sekitar camp. Nggak lupa juga toilet dan musholla. Hmm.. ini sih bukan mendaki gunung menurutku, karena aku pernah camp yang bener-bener nggak ada toilet maupun warung. Pantas saja gunung ini menjadi tempat favorite untuk pemula. Fasilitasnya lengkap!

Hammock-hammockan

Kami memilih mendirikan tenda di dekat pohon-pohon karena katanya biar nggak terlalu terkena angin. Makan siang pertama? spaghetti!

Ceritanya Ninja Warrior

Mata Air dan Hutan Mati Papandayan

UJourney Squad minus Lusi

Katanya Mata Air tapi aku nggak nemu airnya
Setelah Dzhuhur, sekitar jam 2 siang kami berangkat menulusuri hutan Mati, dari namanya saja udah spooky yaa dan memang agak spooky sih.. Di samping itu.. pemandangan disini subhanallaah keren abis lah! Makanya foto-foto yang aku ambil tak terhitung jumlahnya.. yang aku tampilkan disini udah melalui seleksi ketat pokoknya saking bingung mau diposting yang mana.. wkwkwk..


Sayang salah satu teman kami Lusi memilih untuk tidur di tenda.. padahal bagus banget sih pemandangannya. Eh, tapi ternyata dia udah pernah naik Papandayan sebelumnya. Yaudah lah yaa, biarkan saja dia merajut mimpi di siang yang dingin ini.. mungkin dia lelah..

Add caption
Sekilas tentang hutan mati yang aku sadur dari web Indonesia Kaya.. emang bener-bener kaya..

Kawasan ini merupakan salah satu bagian eksotis dari Gunung Papandayan. Sebuah padang yang menyajikan pemandangan pohon-pohon kering dan memberikan pesona keindahan yang eksotis. Inilah Kawasan Hutan Mati, kawasan yang biasa dilewati para pendaki Gunung Papandayan sebelum sampai ke puncak Tegal Alun.

Ada Danaunya juga.. dan ada penampakan di belakang..


Salah satu yg terekam lensaku..
Danau Hutan Mati











Merunut pada sejarah, pemandangan pohon-pohon mati di Hutan Mati ini berawal dari letusan Gunung Papandayan yang terjadi ratusan tahun silam. Letusan maha dahsyat tersebut terjadi pada 11-12 Agustus 1772, tanpa ada peringatan terlebih dahulu, Gunung Papandayan meletus dengan dahsyat dan menyebabkan sekitar empat puluh desa terkubur.
 
Dilarang loncat

Selain itu, ada sekitar 3000 orang penduduk sekitar gunung yang terkubur ke dalam danau vulkanik. Hewan-hewan peliharaan juga tidak luput terkena imbas letusan gunung ini. Bahkan seorang penulis dari luar negeri, Lee Davis menggambarkan dahsyatnya letusan Gunung Papandayan ke dalam sebuah buku yang berjudul Natural Disaster.

Mau piknik sih ceritanya

Kawasan Hutan Mati menyajikan pemandangan pohon-pohon yang kering tanpa daun dan beberapa pohon bahkan sudah terlihat Menghitam. Meskipun terkesan agak suram dan sedikit berkabut namun dibalik itu, Hutan Mati memiliki daya tarik tersendiri. Pesona kesuraman pohon-pohon kering berpadu dengan hamparan tanah putih ini menjadi pemandangan yang indah.

Berasa di Dunia lain ketika Kabut turun

Saat berada di kawasan ini, aroma bau belerang begitu terasa indra penciuman kita. Berjalan-jalan di sekitar area kawasan hutan mengundang sensasi tersendiri. Sebagian pendaki ada yang mengabadikan momen berada di sini dengan berfoto bersama dengan rekan-rekan sesama pendaki.
Hutan Mati di Gunung Papandayan memiliki daya tarik untuk di singgahi saat pendaki berusaha untuk mencapai puncak Gunung Papandayan. Kesan suram seakan hilang berganti dengan keindahan saat kita menginjakan kaki di area ini. [Tauhid/IndonesiaKaya]


Tegal Alun Papandayan si Surga Edelweiss

Ujourney Squad menorehkan sejarah di Tegal Alun
Kasur Edelweisss
Termehek-mehek menuju Tagal Alun


Kami menuju Tegal Alun keesokan paginya *setelah kedinginan semaleman. Jalan menuju Tegal Alun melewati Hutan Mati juga. Melihat jalur ke Tegal Alun yang "WOW" itu aku langsung bilang "Boleh nggak kalau aku tinggal disini aja?" wkwkwk..

Tapi akhirnya, berbekal kenekatan dan sedikit diyakinkan oleh yang lain, akhirnya aku memanjat juga menuju Tegal Alun. Iya, memanjat bukan jalan karena memang kemiringan lereng yang kami lewati atau "kami pilih lewati" cukup curam mengingat ternyata ada jalan lain yang lebih landai..

Sepanjang perjalanan memanjat, memang pemandangannya oke banget kalau melihat ke belakang. Ada lah satu titik dimana tebingnya terbuka tanpa pepohonan dan pemandangan di belakang aku buat aku merinding *maklum rada takut ketinggian yang membuat aku langsung pegangan. Walaupun takut, toh aku tetep negok ke belakang sambil pegangan karena pemandangan dari atas subhanallaah bagus banget..


Jump Girllss

Keliatan banget kan senengnya
Sampai di Tegal Alun, kami..... BERFOTO laaah... yayaa.. foto-foto berikut juga udah lewat seleksi super ketat loh nggak sembarangan! wkwkwkk..



Yeaaayy
Alhamdulillaaah..

Ini dia penampakan Close Up si Edelweiss

Siang hari kami kembali ke camp dan segera membuat makan siang *indomi* dan beres-beres untuk turun. Kata "turun gunung" yang sering aku dengar di dunia persilatan akhirnya aku alami juga. wkwkwk.. Aku nggak terlalu inget jalan pas pulang sih. Soalnya kok tau-tau sampai basecamp aja jam 5 sore. Kami segera bersih-bersih mandi dan menuju Jakartaaaa..

Basecamp Papandayan - Jalur Masuk Pendakian

Oh iya, sambil menunggu yang lain, aku menyempatkan untuk berkeliling basecamp dan melihat-lihat cindera mata disitu, nggak lupa juga beli batagor.. hehe..

Oke, see u in next trip yaa..

Nemu jembatan oke


Friday, 7 April 2017

Kick Off Meeting Seismik, Jambi, 29 Agst - 2 Sept 2016

Jambi lagi..

Berhubung memang Blok kerjaku di Jabung, Jambi, jadi aku lumayan sering berkunjung ke kota ini. Kali ini, aku akan menghigh light dua tempat, yaitu jembatan Gentala Arasy yang baru selesai dibangun dan Candi Muaro Jambi.

Sekapur Sirih

Mbaknya kebanyakan kalsium..


Jembatan Gentala Arasy

Jembatan Gentala Arasy ini terletak di atas sungai Batanghari yang merupakan salah satu moda transportasi di Jambi, tepatnya di depan rumah dinas Gubernur Jambi. Sekitar jembatan dan tepi sungai Batanghari ini merupakan wisata kuliner yang biasanya ramai dari sore hari menjelang malam. Saya sempat mencicipi Jagung Bakar sambil menikmati pemandangan sungai besar ini.



Gentala Arasy adalah museum budaya dengan corak arsitektur Islam yang bisa ditemukan di tepi Sungai Batanghari, Jambi. Selain museum dan ruang terbuka publik, bagian belakang museum ini terhubung dengan daerah seberang sungai, dengan adanya jembatan pedestrian selebar 4,5 meter dan panjang 503 meter. Di puncak menara museum ini, terdapat jam besar yang bisa dilihat dari kejauhan. Gentala arasy adalah singkatan dari gena tanah lahir abdurahman sayuti ini merupakan sebagai persembahan kehormatan untuk mantan gubernur jambi.

Jembatan Gentala Arasy dibangun dengan anggaran senilai Rp 88,7 miliar dalam tiga tahun anggaran 2012-2014. Bangunan ini merupakan proyek dari masa pemerintahan Hasan Basri Agus, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tanggal 28 Maret 2015. (cr : https://id.wikipedia.org/wiki/Gentala_Arasy)





Candi Muaro Jambi




Menyempatkan kesini demi rasa penasaran, akhirnya aku memaksa Risyad dan Mas Heri buat menemani kesini. Kami menyewa sepeda masing-masing seharga 10rb rupiah untuk memutar kawasan candi ini yang ternyata sangat luas. Angin yang sangat kencang membuat pohon tua besar yang tumbang menyambut kedatangan kami dengan bunyi yang cukup mengagetkan. Memasuki kawasan candi, hujan menghampiri kami sehingga kami mampir ke museum terlebih dahulu. Museum disini hanya berupa satu ruangan sederhana yang menampilkan penjelasan mengenai candi-candi di kawasan ini serta beberapa pajangan benda antik yang ditemukan di kawasan ini.

Ketika hujan reda, kami mulai berkeliling kawasan candi Muaro Jambi ini yang ternyata cukup sepi pengunjung. Entah karena kami berkunjung pada hari kerja atau memang sepi. Tapi justru karena sepi kami jadi bisa menikmati keindahan candi ini dengan leluasa.

Kompleks Candi Muaro Jambi

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muara Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Indonesia yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Muara Sebo, Kabupaten Muara Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01* 28'32" Timur 103* 40'04". Candi tersebut diperkirakakn berasal dari abad ke-11 M. Candi Muara Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang paling terawat di pulau Sumatera. Dan sejak tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia.


 

Penemuan dan pemugaran

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno[butuh rujukan] pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar,[1] dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.


Struktur kompleks percandian

Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 61 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas (diokupasi).[1] Dalam kompleks percandian ini terdapat pula beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu.


 
Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat penammpungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno. Dalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah menapo yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat. Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks tersebut juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lumpang/lesung batu. Gong perunggu dengan tulisan Cina, mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik, bata-bata bertulis, bergambar dan bertanda, fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan perunggu. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah (gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak.

(cr : https://id.wikipedia.org/wiki/Kompleks_Candi_Muaro_Jambi)

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...