Thursday, 27 August 2015

Camping ala Backpacker at Gunung Salak Endah, Bogor 15-16 Agustus 2015

Aku suka air terjun. Sangat suka.

One of a Kind

Beautiful scenery

Aku berfikir jika punya rumah nanti aku ingin suasananya seperti di sekitar air terjun. Bunyi curahan air dipadukan dengan hewan-hewan liar seperti jangkrik, tongeret, tokek, kicauan burung yang saling bersatu padu menyajikan lantunan nyanyian alam yang indah.

Satu lagi yang aku suka, Bintang. Hamparan bintang ditemani lantunan nyanyian alam, sungguh tidak tergambarkan perasaan yang aku rasakan. Hamparan bintang yang hanya bisa aku nikmati di daerah pegunungan, seakan-akan aku bisa kapan saja menggapai mereka. Begitu dekat dan terang.

Perjalanan kali ini, niat awal kami memang mau jalan-jalan yang low cost budget daripada liburan kemerdekaan nggak kemana-mana. Berhubung si Gesa pernah bilang kalau dia mau merasakan bagaimana rasanya camping, maka tercetuslah keputusan liburan ke Gunung Salak Endah ini. Kebetulan aku sudah lumayan sering camping disana, tapi dulu waktu SMA, aahahaa.

Gunung Salak Endah Map
Kesimpulan dari perjalanan kami, aku dapat mengurutkan air terjun disana dari yang paling bagus. Tapi  yang paling bagus adalah yang paling ekstrem perjalanannya. Hahahaa
1. Curug Seribu
2. Curug Cigamea
3. Curug Kondang (Curug Ngumpet 2)
4. Curug Pangeran
5. Curug Ngumpet
6. Curug Cihurang

Naik Angkutan Umum

Hari Kamis, kami membuat keputusan mendadak untuk camping. Setelah cari masa, akhirnya cuma dapet 1 orang, yaitu Putri. Tekad bulat, akhirnya kami tetap memutuskan berangkat walau cuma bertiga. Sibuk searching, akhirnya kami dapat contact person sebuah camping ground yang bernama Panorama Alam Camping Ground (CP Kang Agung 085710793979). Berhubung kami cuma bertiga dan nggak mungkin bawa yang macem-macem seperti kompor dan tenda, Kami memutuskan untuk bercamping disana dengan biaya :
Sewa lokasi Rp20.000/orang
Sewa Tenda Rp150.000/tenda
Catering makan Rp.20.000/makan

On Public Transportation
Sabtu pagi, jam 07.15, kami berkumpul di stasiun Bogor. Berbekal pengetahuan dari internet dan kenekatan, kami memutuskan untuk naik angkutan umum. Dari stasiun Bogor, kami menyebrang jembatan penyebrangan (ke depan Matahari, Taman Topi Square) dan naik angkot 03 tujuan Terminal Bubulak berwarna hijau. Berhubung kami bawa sleeping bag dan tas besar, jadilah banyak kenek yang nyamperin kami.

Naik 03 selama kurang lebih 25 menit (10rb bertiga), kami diturunkan di Terminal Laladon. Disana, kami naik angkot berwarna biru dongker (nggak ada nomernya) menuju Leuwiliang. Bilang aja ke keneknya mau ke pertigaan Cibatok, nanti mereka akan kasih tahu angkot mana yang harus kita naiki.

Depan warung indomie

Perjalanan menuju pertigaan Cibatok, terasa sangat lama, kurang lebih 40 menit. Itu pun jalannya hanya luruuuuuss saja, seakan-akan nggak ada ujungnya. Tapi akhirnya, kami sampai juga di pertigaan Cibatok. Di pertigaan Cibatok, tidak perlu menyebrang, sudah ada berjejer angkot berwarna biru muda nomor 52 jurusan Gunung Bunder. Kami naik itu selama kurang lebih 30 menit juga. Sebenarnya, angkot ini tidak sampai ke kawasan Wisata Gunung Salak Endah dan kita harus meneruskan naik ke atas menggunakan ojek. Tetapi entah karena tampang kita yang udah cape dan bawaan banyak, akhirnya Pak Supir menawarkan untuk mengantar ke atas sampai tujuan kita.
First day Breakfast before heading to Cigamea
Kami minta diturunkan di Curug Cigamea yang berada paling timur, karena kami masuk dari pintu sebelah Timur. Biaya angkot @20rb per orang dan biaya masuk kawasan 10rb 1 mobil. Sampai depan pintu masuk Curug Cigamea, jam 10.00 WIB, kami sarapan dulu di warung. Sekalian mau titip tas. Setelah sarapan, kami langsung menuju ke Curug Cigamea.


Curug Cigamea
Cigamea Waterfall

Cigamea Waterfall 2

Perjalanan menuju Curug Cigamea lumayan naik turun sekitar 1,5km. Berhubung ini termasuk pemanasan, maka kami lumayan kewalahan juga. Tetapi, jalannya sudah bagus dan pemandangan selama perjalanan juga oke. Di pinggir jalan, banyak warung yang menjual makanan ataupun oleh-oleh, bahkan tongsis pun ada! Sampai di Curug Cigamea, kami berfoto-foto dan melepas lelah. Air terjunnya ada dua dan lumayan besar, oke lah buat mengawali perjalanan kami hari ini. Tiket masuk Rp10rb.

Pemandangan Sepanjang Perjalanan Menuju Curug Cigamea


The road to Cigamea Waterfall
We are in Cigamea Waterfall!!
We are in Cigamea Waterfall 2!!

Curug Cihurang

Setelah dari Curug Cigamea, rencananya kami mau ke curug yang paling ujung satunya lagi yaitu Curug Cihurang, mengingat camp kami berada di tengah-tengah. Awalnya sih mau jalan kaki menuju Curug Cihurang, tapi alhamdulillah ada angkot lewat habis mengantarkan orang. Akhirnya kita men-stop angkot itu dan minta dianter ke Curug Cihurang dengan biaya 30rb. Untung saja kami memutuskan naik angkot, karena perjalanan dari Curug Cigamea ke Curug Cihurang ternyata jaauuhhhh sekali dan naik turun. Waktu naik angkot, kami cuma berfikir gimana ya  nanti menuju camp yang ternyata jauh. Ahahahaa...
Cihurang Waterfall

Sampai di Curug Cihurang, kami titip tas lagi di warung depan sambil beli teh hangat. Jarak Curug dan pintu masuk hanya sekitar 300m dan datar-datar saja. Curugnya kecil dan dangkal, tapi banyak keluarga yang nge-camp disini. Mungkin karena aksesnya juga oke untuk anak-anak. Kami juga beli jagung bakar yang harganya 6rb per buah. Tiket masuk Rp.7.500 (plus asuransi 500).

Heading to Ngumpet Waterfall

Curug Ngumpet
Ngumpet Waterfall

Perjalanan ke Pos Curug Ngumpet dari Curug Cihurang cukup jauh dan terus naik. Kami berjalan perlahan sambil bermandi keringat yang sebesar biji Jagung. Sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berhenti untuk mengabadikan hutan-hutan pinus di sepanjang jalan sambil mengisi tenaga dengan cemilan yang kami bawa. Kami melewati pintu masuk Kawah Ratu, tapi kami tidak kesana dan langsung melanjutkan perjalanan ke curug Ngumpet karena takut kesorean mengingat perjalanan kami masih panjang. Jarak curug ngumpet dengan jalan raya tidak terlalu jauh, bisa dijangkau oleh anak-anak. Kami menitipkan tas di pos penjaga. Tiket masuk Rp.7.500 (plus asuransi 500).
On Curug Ngumpet


Curug Pangeran

Pangeran Waterfall
Curug Pangeran tidak jauh dari Curug Ngumpet, tapi jauh dari jalan Raya beraspal. Jalan menuju Pos Curug Pangeran menanjak dan berbatu-batu besar. Awalnya kami mau membawa tas ke atas, tapi baru 50 m kami nggak kuat dan akhirnya menitipkan tas kami di sebuah warung *hahaha. Melepas beban, kami masih harus mendaki ke pos Curug Pangeran (baru pos-nya aja loh). Sampai di pos kami beli tiket masuk Rp.7.500 (plus asuransi 500) dan melanjutkan perjalanan. Jalan ke Curug Pangeran adalah jalan setapak yang terus turun. Totalnya sekitar 3km dihitung dari jalan besar.

On Curug Pangeran

Curug Kondang (Ngumpet 2)
Kondang Waterfall

Curug Kondang juga tidak begitu jauh dari Curug Pangeran. Kami langsung beli tiket disana dan disuruh makan siang dulu sama Bapak penjual tiketnya berhubung sudah jam 14.30 dan kami belum makan siang. Mungkin tampang kami udah kucel kumel dan gembel yaa.. ahahaahaa. Akhirnya kami makan pecel ayam di warung yang nggak jauh dari pos. Entah karena kami yang kelaparan atau memang makanannya enak banget, kami makan dengan sedikit brutal. Menitipkan tas di warung, kami jalan ke arah Curug yang nggak begitu jauh. Curug ini lumayan besar, tapi ramai sekali orang karena ada adek2 yang study tour. Alhasil, kami cuma foto dari atas batu saja.
On Curug Kondang


Panorama Alam Camping Ground
Lets Go!

Kami berjalan lagi ke arah camping Ground, melewati tanjakan yang cukup curam. Panorama Alam Camping Ground ini terletak tidak jauh dari Michael Resort. Tidak terbayangkan betapa senangnya kami ketika melihat Gapura bertuliskan "Panorama Alam". Berhubung di samping ada masjid besar dan sekarang sudah jam 16.00 WIB akhirnya kami mampir dulu untuk beribadah. Setelah shalat, kami menelpon Kang Agung, katanya kami disuruh naik saja ke atas karena camping ground nya berada di atas.
Our Hotel ahahaa

Setengah perjalanan yang terus menanjak, kami bingung karena nggak sampai2 ke Camp. Akhirnya kami kembali menelpon Kang Agung dan dia menjawab kalau kami harus naik terus. Tanjakan curam, kami akhirnya pasrah naik lagi dengan tenaga yang tersisa. Alhamdulillah sampai juga dan tenda yang kami sewa sudah berdiri dengan manisnya menyambut kami.

Lokasinya oke, MCK juga bersih dan banyak (kalo nggak salah 5 kamar mandi). Tapi jujur saja tendanya agak kotor dalamnya. Akhirnya kami menggelar sleeping bag masing-masing. Kapasitas tenda cukup besar, muat sekitar max. 10 orang, jadi kami bertiga bisa buka lapak masing-masing yang cukup luas buat guling-guling.
Heading to Curug Seribu

Kami beres-beres kemudian mandi karena badan sudah lengket oleh keringat hasil tracking seharian. Malamnya, jam 7 Kang Agung mengantarkan makan malam kami. Lauknya komplit, enaklah pokoknya. Habis makan kami ngobrol sebentar sampai ketiduran. Rencananya mau lihat bintang tengah malem, tapi nggak ada yang bangun. Jam 4 pagi, aku terbangun gara-gara Gesa kelaperan buka bungkus roti. Mengintip keluar, terlihat ada 1 bintang entah apa namanya. Langsung melek, akhirnya aku dan Gesa keluar, yang ternyata bintangnya banyaaakkk banget. Bawa alas duduk dan makanan, akhirnya kami piknik dini hari di bawah taburan bintang. Alhamdulillaah kami juga berkesempatan melihat bintang jatuh yang membuat kami takjub. Subhaanallaah. Sayangnya, aku bukan penggemar SLR, jadi nggak bisa menampilkan keindahan yg satu ini pada kalian semua. Salah satu alasan aku suka pegunungan adalah ini, bintang terasa amat dekat seakan kita bisa menggapainya.


Curug Seribu
Seribu Waterfall

Jam 08.30, kami melunasi paket tenda dan berjalan menuju ke Curug Seribu. Jarak ke pintu masuk curug seribu lumayan dekat dari tempat camping. Kami mengisi perut dulu dengan semangkok mi rebus sebelum melakukan perjalanan. Sebelumnya, tahun 2004, aku pernah ke Curug seribu. Dulu curug ini belum terkenal seperti sekarang. Mengingat perjalanan berat yang akan ditempuh, kami memang perlu untuk mengisi tenaga terlebih dahulu.
Perjalanan ke Curug Seribu

Curug seribu berada di sebuah lembah tertutup yang berketinggian kurang lebih 100 m. Perjalanan ke curug seribu dari pintu masuk kurang lebih ditempuh selama 45 menit (kecepatan standar orang dewasa). Beberapa km dekat pintu masuk ada pos penjagaan, kami bayar tiket dan didata. *Mungkin karena banyak orang hilang disini.

Awalnya jalanan masih lebar dan sedikit menurun, tapi semakin ke dalam, jalan akan berubah menjadi jalan setapak dan terdiri dari tangga-tangga batu yang licin dan cukup curam. Sebelah kiri merupakan tebing lembah, dan sebelah kanan jurang. Ketinggian tangganya sendiri sekitar 50cm, sehingga ketika turun, kami harus sedikit duduk dengan berpegangan kepada tangga sebelumnya. Untung saja sekarang sudah ada pegangannya. Kalau dulu, sama sekali belum ada. Putri dan Gesa sudah membayangkan seperti apa beratnya perjalanan pulang nanti yang ku jawab mikir pulangnya nanti aja. ahahaha.
We are in here!! Curug Seribu!

Perjalanan yang berat terbayarkan dengan pemandangan air terjun Seribu yang super besar. Aku mau diajak kembali kesini karena aku tahu pemandangan yang akan ku nikmati setara dengan perjalanan yang berat menuju kesini. Sayangnya, sekarang kita tidak boleh mendekati air terjun maupun kolamnya karena pernah ada beberapa kasus orang terbawa air bah dari curug seribu. Padahal, perasaan saat berada dekat dengan air terjun itu sungguh tak bisa ku deskripsikan. Seakan-akan semua beban terlepas dan kita bisa menarik napas lega.
Take a bath first before go home!

Kami berfoto dan istirahat disini. Aku dan Putri memutuskan berenang di sungai. Airnya dingin dan segar, lumayan buat penambah energi saat pulang. Saat pulang, kami mendaki perlahan-lahan. Keringat kami sudah bukan sebesar biji jagung lagi, mungkin sebesar bola pingpong. ahahahaa. Tapi akhirnya kami sampai juga. Melewati pos penjaga, kami lapor lagi kalau sudah kembali.

Sampai warung, kami mandi dan makan lagi karena mi rebus yang tadi pagi sudah merembes keluar semua sekalian menelpon bapak angkot 52 yang kemarin dan minta dijemput di depan pintu masuk curug seribu (Rp25rb per orang) sampai pertigaan Cibatok. Dari pertigaan Cibatok sudah ada angkot yang menunggu menuju ke terminal Bubulak. Dari terminal Bubulak, kami naik 02 (Rp4rb per orang) sampai depan stasiun Bogor. Sebelum naik kereta, kami mampir dulu ke KFC di seberang. Setelah itu, kami pulang ke rumah masing-masing.

Pulaaaaanggggg

Nah, itulah perjalanan ketiga cewek nekat karena nggak ada kerjaan dan pengen banget kemping. Semoga informasi di atas berguna bagi kawan-kawan yang berniat mengikuti jejak kenekatan kami.

Sampai jumpa di trip selanjutnya!!





Monday, 10 August 2015

BackPacker to Harapan Island, Thousand Islands, Indonesia 1-2 August 2015

Haloooo..

Helloo.. Greeting From The Island!
Sunset at Perak Island

Kembali lagi dengan trip ala Backpacker!!
Kali ini beneran backpacker deh, tanggal 1-2 Agustus 2015 kemarin, kami mengunjungi Pulau Harapan dan sekitarnya. Berhubung cuacanya lagi lumayan, jadi kita dapet foto yang lumayan bagus juga. Trip kali ini, aku ngikut anak2 lt.30. Selama trip aku agak2 PMS sih, jadi agak nggak mood. Tapi lumayan oke lah.

Harapan Island Port at Dusk
Blue
The Fisherman Pull-out his Ships


Oke guys, lets check out the trip!

1 Agustus 2015

Tadi malem abis diajak nonton "Surga yang Tak Kurindukan" sama Mba Winda dan Mba Tiyas. Udah kubilang aku bakalan mewek, alhasil setengah jalan film air mata nggak berhenti mengalir padahal udah ketawa. That's why I dont like that kind of film!

Our "Lapak" At Ship depart to Harapan Island
Jam 04.00 pagi aku bangun dengan mata agak bengkak, mandi dan menuju ke Menara Kuningan buat kumpul dan berangkat bareng ke Pelabuhan KaliAdem, Muara Angke. Rencananya sih berangkat jam 5, tapi nyatanya setengah 6. Sampai di Kali Adem, kami langsung disuruh naik kapal yang ternyata baru berangkat jam 08.00 WIB.

In Front of The Home Stay, Ready to Rock!
Perjalanan ke Pulau Harapan membutuhkan waktu selama 3,5 jam. Pegal-pegal kami terbayar dengan melihat bersih dan birunya laut di Pulau Harapan. Penginapan di Pulau Harapan berupa rumah-rumah penduduk yang disewakan. Alhamdulillah ada AC-nya, karena disini sangat panas.

At Ships

Yeaayy,, Snorkeling!!



Jam 13.00 kami baru berangkat lagi mengunjungi pulau-pulau lain. Kegiatan kami snorkeling, berhubung ombaknya lagi besar, jadi airnya keruh. Dan lagi, kami tidak mendapat spot yang bagus untuk snorkeling karena ramai pengunjung. Aku agak kecewa sih.

Sunset At Perak Island
Kami mengunjungi beberapa pulau yang pantainya oke, jadi kekecewaan saat snorkeling lumayan terbayarkan. Bakal kecewa banget kan udah jauh-jauh kesini tapi nggak dapet apa-apa?

The Girls
Wefie!!



2 Agustus 2015

Kami berangkat jam 08.00 WIB dan hanya mengunjungi 1 pulau. Beberapa dari kami naik banana boat, yang lain menikmati pemandangan sambil berfoto-foto. Kami tiba di Pulau Harapan pukul 10.00 dan bersih-bersih. Sebagian sudah ke kapal untuk ambil tempat, karena takut nggak kebagian.

We Also met Foreign!

Lets Jump Higher!!
Lets Rock The Banana Boat!!
Helllooooooo!!


Aku sempat mengunjungi penangkaran penyu di Pulau Harapan. Kemudian kembali ke penginapan dan bersiap menuju Kapal. Kapal kami berangkat jam 12.00 WIB. Ombaknya lebih besar daripada waktu berangkat. Untung saja aku sudah meminum antimo sebelumnya sehingga bisa tidur sepanjang perjalanan.

At Penyu Captivity

Little Penyu, soo cuuteee ^^

Friday, 7 August 2015

CONFUSED

Ketika air mata tak lagi mengalir..
Ketika untaian kata dan caci maki tak lagi terucap..
Ketika tangan dan kaki tak lagi bergerak..
Ketika telinga tak lagi mendengar..
Ketika otak tak lagi berfikir..
Ketika hati tak lagi peduli..


Aku bernyawa..
Tapi tak merasa apa-apa..
Aku bernyawa..
Tapi tak bergerak..
Aku bernyawa..
Tapi tak peduli..
Aku bernyawa..
Tapi tak bisa berfikir..
Aku bernyawa..
Tapi hatiku mati..

 
DUDUK

 TERDIAM

BINGUNG

ACUH



*Ketika aku tak lagi tahu harus berbuat apa.. Bahkan marah pun tak bisa..
  for the one who  used to be my Hero.. Sampai tahap bagaimana kau akan menyakitiku?

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...