Wednesday, 28 November 2012

Geophysics Expedition -- Bledug Kuwu

Tim VLF (Very Low Frequency) di Bledug Kuwu

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman praktikum di Bledug Kuwu, Purwodadi. Sebenermya sih saya hanya menemani adek2 angkatan praktikum,, hoho..

Bergaya dulu,, hehe,, :P
Bledug Kuwu adalah salah satu fenomena alam yang ada di Indonesia. Tempat tersebut merupakan tempat keluarnya lumpur dari dalam bumi (seperti kasus lapindo). Akan tetapi, lumpur disini tidaklah panas, dan rasanya asin seperti air laut.

Eh, semburan lumpurnya malah ditutupin???

Dalam praktikum kali ini, kami mencoba memetakan zona rapuh dan penyebaran lumpur tersebut. Karena sifat lumpur yang asin, maka lumpur akan mengandung ion2 sehingga dapat menghantarkan listrik dengan baik (konduktif). Saya mendampingi adek2 menggunakan metode VLF (Very Low Frequency), sedangkan teman saya (Sulistiyani dan Ridhawulan) mendampingi adek2 menggunakan metode Geolistrik (Sounding dan Mapping).

Bersama asisten dan dosen (Mz Apip, Ikhsan, Pak Imam, Boe2, Me, Sulis, Ical, Roby)

Ridhawulan, Me, Sulistiyani
Suasana Pengambilan Data *ada yg lg galau juga,., kekekeke :P

Sounding, maksudnya pengambilan data dilakukan terhadap fungsi kedalaman. Sedangkan mapping, pengambilan data dilakukan terhadap fungsi jarak. Kami menggunakan kedua data dari metode tersebut untuk menginterpretasikan penyebaran dan kedalaman dari lumpur tersebut. Hasil dari praktikum tersebut tidak akan saya share disini yaa,, karena bukan saya yang mengerjakan,, :D

Tim VLF Hari ke-2


Sebelum makan juga masih sempet narsis ^^




Saya Bangga Menjadi Lulusan Pesantren.

Saya mau berbagi cerita sedikit tentang pandangan orang terhadap Pesantren,,

Setiap ada yang berkata pesantren,, apakah yang ada di benak anda? kuno? kumuh? ketinggalan jaman? Mau jadi apa? Bisanya ngaji doang? Anak buangan? Penuh anak2 bermasalah dan nakal???
Mungkin kata-kata tersebut sempat mampir di benak anda, bahkan ayah saya sendiri pun dahulu berfikir seperti itu.

Sewaktu saya tes TOEFL di Gedung Graha Sabha Pramana, UGM, ibu saya sempat mengobrol dengan salah satu orang tua mahasiswa di sana :

Orang tua Mhs (OTM) : Ibu, anaknya lagi tes?
Ibu saya (IS) : Iya,,
OTM : Asalnya mana?
IS      : Bekasi Bu,
OTM : Oh,, SMA nya mana Bu? SMA 1 ya?
IS      : Bukan, anak saya sekolah di Depok
OTM : Loh kok jauh?
IS       : Iya, anak saya sekolah di pesantren
OTM : Ah, masa sih bu? pasti sekolah umumnya pisah ya sama pesantrennya?
IS       : Nggak ko, pesantrennya jadi satu sama sekolahnya,,
OTM : Ah, anak pesantren mana mungkin  bisa masuk UGM
IS       : (sambil nahan dongkol) tapi anak saya masuk tuh Bu,, *trus ninggalin ibu2 itu,,

See? oke, lanjut ke cerita selanjutnya. Cerita ini berasal dari adik kelas saya Fariz yang sekarang masih kuliah di Teknik Arsitektur UGM. Kepala sekolah saya, memberikan nomor telpon Faris kepada salah satu calon orang tua santri. Orang tua santri tersebut tidak percaya ketika kepala sekolah kami mengatakan bahwa alumni kami ada yang masuk UGM. Kira-kira percakapannya begini :

Ortu : Assalamu'alaikum, ini Faris?
Faris : Wa'alaikum salam, Iya pak, 
Ortu : Faris, saya yang kemarin ngobrol sama Pak Zarkasyi (kepsek) mau tanya tentang pesantren kamu
Faris : Oh iya Pak, bagaimana?
Ortu : Kamu sekarang kuliah di UGM?
Faris : Iya Pak
Ortu : jurusan apa?
Faris : Teknik arsitektur
Ortu : masuk UGM nya lewat jalur apa?
Faris : UM-UGM Pak (ujian masuk)
Ortu : Itu kamu ngerjain sendiri? *doeeeeennnnkkkkkkkkkkk,,,,,

-- ini nih,, maksud bapaknya pake Joki atau Nyogok !!

Reuni (walopun cuma berempat :P) anak2 AHISCO di UGM (Me, Sarah, Ihsan, Fariz)

Yah, begitulah,, seakan-akan anak lulusan pesantren itu BODOH, BUANGAN, BISANYA NGAJI DOANG, NGGAK MUNGKIN MASUK UNIV. NEGRI,, de el el.. *curcol kegondokan :P

Sekarang ini, sudah banyak kok pondok pesantren modern. Lagipula, ajaran agama Islam itu mendahulukan "keseimbangan dunia dan akhirat". Nabi SAW juga tidak menginginkan kita untuk mementingkan akhirat saja. Ajaran Islam tidak melarang umatnya untuk belajar matematika, sains, social. Jadi, jangan anggap anak lulusan pesantren itu bisanya ngaji doang.

"Hablum minallaah wa Hablum minannaas"

Saatnya kita berfikiran terbuka, jangan lihat dari sampul saja, cobalah masuk ke dalam, nanti akan ketemu saya,, *loh?? :P

n/b : Buat Faris maaf kalo ada salah kata buat ceritanya,, heeheee,,

Tuesday, 27 November 2012

"Undzhur Maa Qaala,, wa Laa Tandzhur Man Qaala"

"Undzhur Maa Qaala,, wa Laa Tandzhur Man Qaala"
انظر ما قال ولا تنظر من قال
Lihat apa yang dikatakan,, jangan lihat siapa yang mengatakan,,


Hoho,, gara2 temen saya yang update status di fesbuk,, saya jadi ingin membahas statement di atas.

Bagi saya, dan mungkin teman-teman saya yang bersekolah di pondok, pernyataan di atas sudah tidak asing lagi. Kami selalu menggunakannya setiap ada latihan dakwah di pondok (muhadharah). Ketika kami terjun ke masyarakat dalam rangka  KPM (Kegiatan Pengabdian Masyarakat), kami pun seringkali menggunakan statement di atas. Sebagai pelajar, yang latihan berdakwah di hadapan Ibu-ibu atau Bapak-bapak yang notabenenya lebih tua daripada kita, kita tidak ingin mereka menganggap kita terlalu menggurui bukan? *kayaknya ini lebih berguna sebagai sarana membela diri :P

So, kami selalu menggunakan pernyataan di atas,, haha. Sebenarnya pernyataan di atas sangat bermakna di kehidupan kita sehari-hari. Coba kita tengok sekitar, bagaimana perilaku orang-orang sekitar kita? Pernahkan kalian mendengar kalimat "Senior selalu Benar" ? Pernahkah kalian merasa pendapat kalian dianggap angin lalu? Saya yakin sebagian besar dari kalian pernah merasakannya.

 Sebagian besar senior, pasti merasa gengsi kalau mengakui kesalahannya dihadapan junior. Mungkin, kita sendiri sebagai senior juga merasakan hal tersebut terhadap junior. Padahal sewaktu menjadi junior, kita pasti tidak suka dengan perilaku senior tersebut. Jika kita bersikap seperti itu, bukankah kita sama menyebalkannya dengan senior kita dulu? *iya gak? :p

 Hal "senioritas" ini sudah lumrah terjadi di masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Akan tetapi, kita masih bisa merubahnya, berawal dari kita, mari berpegang pada pernyataan di atas. Marilah membuka hati dan pikiran,, katakan benar sebagai benar,, dan salah sebagai salah...

FIGHTING!!  Make A Wish,, Make A Change,, We Can Change The World!!!


Wednesday, 7 November 2012

SunSet Home -- Narogong Bekasi



Metode Very Low Frequency (VLF) -- Survei, Introduction




Prinsip pengukuran metode VLF yaitu sumber gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah yang disebut sebagai medan primer dan mempunyai frekuensi 15 kHz sampai 30 kHz, dirambatkan di antara permukaan bumi dan ionosfer.

Dalam tubuh batuan konduktif, medan primer ini akan menginduksi arus sekunder didalamnya yang disebut arus Eddy. Arus ini akan membangkitkan medan sekunder yang kemudian bergabung dengan medan primer. Medan sekunder yang dibangkitkan tergantung dari besaran fisika yang terkandung dalam batuan yaitu resistivitas atau konduktivitas. Dengan melakukan pengukuran medan total (primer + sekunder) di permukaan bumi dapat diketahui resistivitas sebagai salah satu sifat fisis batuan. 

Ada dua jenis pengukuran VLF, yaitu mode tilt-angle dan mode resistivity. Mode tilt-angle mengukur polarisasi komponen medan magnetik, sedangkan mode resistivity mengukur polarisasi komponen medan magnetik dan medan listrik. 


Mode Tilt-angle

Mode tilt angle digunakan untuk mengetahui struktur konduktif dan kontak geologi seperti zona alterasi, patahan, dan dike konduktif. Dalam mode ini, arah strike target memiliki sudut ±45° dengan lokasi pemancar. Pada konfigurasi pengukuran semacam ini, medan primer akan memberikan fluks yang maksimum jika memotong struktur, sehingga memberikan kemungkinan anomali yang paling besar.

Medan magnet yang memiliki komponen horisontal dan vertikal membentuk sebuah elips yang dapat ditunjukkan dengan sudut tilt dari sumbu mayor dan sumbu horisontalnya, dan eliptisitasnya (perbandingan sumbu minor/sumbu mayor). Alat akan mengukur dua besaran tersebut dari pengukuran komponen in-phase dan out-of-phase medan magnetik vertikal dari medan horisontalnya. Data tilt biasanya disajikan dalam derivative Fraser.


Design Survey untuk Mode Tilt
Parameter eliptisitas kadang digunakan untuk mengetahui bahwa struktur di bawah memiliki konduktivitas tinggi (berharga kurang dari nilai tilt tetapi bertanda terbalik) atau memiliki konduktivitas rendah (bernilai dan bertanda sama dengan nilai tilt).
Dalam pengukuran, instrumen T-VLF akan menghitung parameter sudut tilt dan eliptisitas dari pengukuran komponen in-phase dan out-of phase medan magnet vertikal terhadap komponen horizontalnya. Besar sudut tilt (%) akansama dengan perbandingan Hz/Hx dari komponen in-phase-nya, sedang besar eliptisitas ε (%) sama dengan perbandingan komponen kuadraturnya.
Jika medan magnet horizontal adalah Hx dan medan vertikalnya sebesar Hxe, maka sudut tilt diberikan sebagai :

    



Skema Ellipt
Gambar dibawah ini adalah contoh grafik pengukuran VLF menggunakan metode Tilt. Grafik tersebut terdiri dari nilai tilt, eliptisitas, dan Fraser. Jika grafik tilt berada di atas grafik ellipt, maka dapat dikatakan zona tersebut merupakan zona konduktif. Fraser yang tinggi menunjukkan konduktivitas yang tinggi dan grafik tersebut menunjukkan tempat sebenarnya. Berikut contoh grafiknya (VLF Praktikum Fisika Gunung Api Bromo 2009)




Mode Resisitivity
Mode ini digunakan untuk mengetahui dike resistif dan disisi lain untuk membatasi satuan geologi melalui pemetaan tahanan jenisnya. Mode ini sangat baik jika arah pemancar tegak lurus strike geologinya (±45°) seperti terlihat pada gambar dibawah.

Design Survey untuk Mode Resistivity

Alat akan langsung mengukur besarnya tahanan jenis medium dan besarnya sudut fase medium. Letak anomali secara kasar berada di bawah puncak anomali tahanan jenis. Sedangkan harga fase > 45° menunjukkan tahanan jenis semakin dalam semakin kecil, dan fase < 45° menunjukkan tahanan jenis semakin dalam makin besar.

Berikut Contoh hasil pemrosesan data VLF(Geophysics Expedition Kamojang 2009)





 Credit : 
1.  Paper berjudul " Identifikasi Zona Konduktif Dangkal Menggunakan Metode VLF (Very Low Frequency) pada Lereng Gunungapi Bromo dan Gunung Batok, Jawa Timur" oleh Mawar Indah Nursina, Ikhsan Hanurogo, Elnisa Kartikasari, Goldy Oceaneawan dan Fradana Hanung

2.  Modul VLF Geophysics Expedition Kamojang Universitas Gadjah mada

3. Paper Berjudul "Analisis Data VLF (Very Low Frequency) untuk Indentifikasi Sesar dan Batas Zona Alterasi di Sekitar Kawah Kreta, Kawah Manuk, dan Kawah Barecek, Kamojang, Jawa Barat" oleh Mawar Indah Nursina, Fajar Rubyanto, dan Wahid Setiadi



Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...