Thursday, 6 April 2017

Alone But Not Lonely Trip Labuan Cermin - Derawan 13 - 17 Agustus 2016

Hai haii..
Spoiler dulu aah bersama sandalku yg setia.. Pulau Kakaban
Di postingan sebelumnya aku cerita kan bela-belain pulang hari Jumat dari Bandung. Nah, ini dia penyebabnya.. pagi-pagi sekali aku harus udah berangkat ke Bandara Soetta untuk memulai petualangan selanjutnya.

First Meet with New Friends
Aku ikut trip Wuki Traveller kali ini dengan biaya 2,9jt untuk tripnya aja. Untuk tiket, paling murah ke CGK-BEJ PP itu 1,6 -1,7 jt menggunakan Sriwijaya/Lion/Batik dan transit di Balikpapan. Aku berangkat naik pesawat Sriwijaya dengan Jadwal 06.10 - 17.00 dan pulang menggunakan Batik dengan jadwal 12.40 - 18.00. Trip kali ini, aku single fighter, semuanya, teman maupun tempat yang akan aku kunjungi merupakan hal baru bagiku.


13 Agustus 2016

Eby, Vya dan Febryo *langsung akrab karna sama-sama single fighter
Jam setengah 5 pagi aku sudah sampai di Soetta, janjian dengan teman trip yang satu pesawat. Bagusnya Wuki ini, kita dibuatkan grup wa sebelum berangkat, jadi bisa kenalan dulu dan janjian jika keberangkatannya sama. Kebetulan, ada beberapa orang yang mengambil flight sriwijaya. Aku janjian dengan Vya, Febrio dan Eby karena mereka sama-sama single fighter kayak aku. Serunya, kita sama-sama belum kenal dan janjian kayak yang ada di iklan "Aku pake baju merah yaa.." wkwkwk.

Kami berempat check in bareng sambil merencanakan apa yang akan kita lakukan di Balikpapan nanti selama transit 7 jam. Flight on time, jam 9.30 kami sudah tiba di Balikpapan. Yeaay.. menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Kalimantan!


Pantai Manggar Balikpapan

Pikniiiikkkkk
Nemu Cilookk
 Berpisah dengan yang lain, kami naik angkot menuju pantai Manggar. Bapak angkotnya minta kita bayar PP 20rb per orang tapi diantar sampai ke tepi pantai. Lumayan laah soalnya emang jauh dari jalan besar. Kami bersantai di tepi pantai sambil minum es kelapa bulet. Ya Allaah.. nikmat mana lagi yg kau dustakan? Btw, aku juga nemu akang cilok disini, langsung aku beli tanpa babibu. Abis makan cilok, kami semua ketiduran di tepi pantai sampai menjelang zuhur saking enaknya angin sepoi-sepoi. Jam 12.30 kami dijemput supir angkot dan minta diantar ke restoran Seafood Dandito yang terkenal kepiting soka-nya di dekat Bandara Sepinggan.


Restoran Seafood Dandito

Namanya seafood, kepiting pula, pastinya harganya mahal. Kami memesan sepiring kepiting soka saus dandito yang enak bangeet plus kangkung tumis. Serius ini kepiting Soka enaknya nagih. Aku sampai bawa oleh-oleh ini ke rumah. Nggak nyesel deh makannya, tapi inget jangan kebanyakan yaaks, seafood looh!

Setelah makan siang, kami kembali ke Bandara naik angkot, karena kalau jalan kaki lumayan jauh dan kebetulan cuacanya lagi cerah alias panas banget. Apalagi aku dan Eby gotong-gotong keril yang lumayan. Masa belum mulai trip energi udah terkuras?

Mariii Kepiting Soka Mantaap
Balik ke Bandara Sepinggan kami  foto-foto lucu dulu di photo booth Bandara dengan menggunakan berbagai macam atribut Khas daerah Kalimantan. Awalnya photobooth itu sepi pengunjung, tapi karena melihat kita yang kayaknya asyik dan heboh foto, akhirnya banyak pengunjung bandara yang mengantri untuk berfoto disini. Mbaknya berpesan, kalau update di instagram tolong dikasih hashtag bandara sepinggan. *baru inget kalau belum posting foto ini di instagram. 

Temen Baru Rasa Lama.. Photobooth Bandara Sepinggan

Jam 4 kami sudah di pesawat menuju Berau. Satu jam kemudian kami mendarat di Berau dan langsung naik mobil yang sudah menjemput di Bandara. Alhamdulillaah. Dari bandara Berau, kami melakukan perjalanan ke Desa Talisayan karena besoknya kami mau hunting Whaleshark. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 7 jam perjalanan darat dengan kondisi masuk hutan dan nggak ada penghuninya sama sekali *sampai kita buang air di semak-semak.. hehe. Kebayang gelapnya yaa. Ditambah lagi kita nggak boleh ngomong sembarangan di perjalanan. Kata supirnya, kalau mencium bau apapun atau mendengar apapun kita nggak boleh komentar. Haha. Syereeeem.


14 Agustus 2016

Desa Talisayan - Hunting Whaleshark

Add caption  
Penginapan di desa ini benar-benar minim, bisa dihitung pakai jari mungkin yaa. Tapi alhamdulillaah kami dapat yang Ber-AC. Jam 12 malam kami baru sampai dan langsung check in. Berhubung kami kelaparan, akhirnya kami diantar ke rumah makan terdekat dari penginapan.

Add caption 
Habis shubuh, sekitar jam 5 pagi, kami sudah berangkat kembali ke pelabuhan yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari penginapan. Kami diantar ke tengah laut untuk mencari Whaleshark yang hidup bebas di tengah lautan. Alhamdulillaah kami beruntung dapat bertemu dengan whaleshark, walaupun aku panik ketika berhadapan dengan mereka. Ternyata kalau hadap-hadapan, mereka kerasa gede banget! Aku kaget waktu menyelam ternyata salah satunya berhadapan muka denganku sambil mangap gede.. hiiiyy.. dan satu lagi, ditubruk mereka sakit asli! kayak diseruduk motor.. haha..

Puas bermain dengan whaleshark, kami kembali ke penginapan dan sarapan. Jam 7 pagi kami kembali melakukan perjalanan menuju Danau Labuan Cermin.
Hunting Whaleshark

Danau Labuan Cermin

Pukul 07.30 pagi kami sampai di Danau Labuan Cermin. Aku berganti baju basah yang tadi pagi aku pakai untuk hunting whaleshark karena memang keterbatasan baju yang aku bawa. Sesampainya di dermaga, kami naik perahu sekitar 10 menit menuju danau labuan cermin.

Berenang di Air Jernih
Danau Labuan Cermin terletak di Desa Labuan Kelambu di Kecamatan Biduk-biduk Kalimantan Timur yang bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 6 sampai 7 jam dari ibukota Kabupaten Berau, Tanjung Redeb, Kalimantan Timur. Meski perjalanan cukup jauh, rasa lelah akan segera terobati begitu melihat keindahan alam yang ada di Labuan Cermin.

Nggak perlu komen deh yaa..

Danau Labuan Cermin memiliki air yang sangat jernih, bahkan dasar dari danau yang berupa pasir laut inipun bisa terlihat dengan jelas. Mengapa dinamakan Labuan Cermin? Ini dikarenakan Labuan Cermin memiliki lapisan yang membuat cahaya matahari memantul. Hal tersebut terjadi karena Danau Labuan Cermin memiliki rasa asin yang akan terasa bila kita mengecap air dari permukaan danau, sementara air di dasar danau akan terasa tawar. Dua jenis air inilah yang membuat danau memiliki sebuah lapisan pemisah sehingga air dapat memantul. Tak jarang juga orang menyebut danau Labuan Cermin ini dengan panggilan ‘Danau Dua Rasa’. Meski terlihat dangkal, harus tetap waspada karena kedalaman danau ini sebenarnya mencapai 4 hingga 5 meter. 
(cr : http://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/danau-cantik-dua-rasa-danau-labuan-cermin) 

Beneran manggil-manggil buat berenang kan yaa..
 
Mendekati Labuan Cermin, jujur aku takjub sekali dengan beningnya danau tersebut sampai-sampai dasar danau tersebut terlihat dari atas kapal, padahal dalamnya sekitar 3 meter. Air danau ini berwarna biru kehijauan yang jernih. Atasnya air tawar dan bawahnya merupakan air laut. Danau ini memang merupakan pertemuan antara sungai dan laut *muara kali yee. Kami berfoto-foto dahulu sebelum menyebur, kata Eby sih biar nggak kucel, hehee. Setelah berfoto-foto, kami langsung nyemplung. Aku kira aku bakal menemukan air yang hangat karena dekat dengan laut yang panas, ternyata airnya dingin dan segar sekali seperti air dari pegunungan, mungkin karena mata air yang berada di bawah. Mantaap lah berenang disini. Betah pokoknya lama-lama.



Kepulauan Derawan
Secangkir Kopi di Pagi Hari
Jam 1 siang kami berangkat dari Labuan Cermin menuju pelabuhan Tanjung Batu di Berau yang memakan waktu sekitar 8 jam dan penyebrangan ke kepulauan Derawan selama kurang lebih 1 jam. Perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan ini kami isi dengan mengobrol panjang, bernyanyi, ngiler karna capek nyanyi, sampai dzikir dan tahlilan gara-gara dibilang mau lewat tempat angker..
Adek lelaah baangg..
Memang sih, sepanjang perjalanan kami melewati hutan, hutan dan hutan lagi yang tidak berkesudahan. Sinyal hape? jangan ditanya yaa.. nggak bakal ada deeeh.. makanya dua hari perjalanan darat, kami berempat udah kayak temen lama saking kenalnya satu sama lain. Bahaha. Beneran lohh.. padahal kami berempat baru kenalan di bandara Soetta saat mau berangkat ke Balikpapan. Di perjalanan, kami sempat berhenti di beberapa tempat sekalian mengambil gambar. Jarang-jarang kan masuk hutan belantara yang pemandangannya asyik gini..


Turun mobil, pantat tepos kelamaan duduk..
Kami sampai di Water Village Derawan pukul 23.30 WITA dan langsung check in kamar untuk istirahat. Cukup melelahkan juga perjalanan darat hari ini membuat badanku terasa remuk.

Bangun pagi, barulah aku melihat pemandangan keseluruhan di pulau Derawan ini yang diselimuti awan mendung serta ombak besar. Penginapan kami berada di atas air sehingga kami bisa langsung nyebur ke air kalau mau. Menurut tour guide kami, nanti sekitar jam 8 kemungkinan ombak sudah tidak besar sehingga kami bisa jalan. Menunggu ombak, kami menikmati pemandangan pantai diselingi penyu besar yang lewat menambah keseruan pagi, tak lupa secangkir kopi hangat yang menemani,menambah lengkap nikmatnya pagi.

Ready to Goo!



15 Agustus 2016
  
Pulau Sangalaki
A moment ketika mengabadikan keindahan pulau Sangalaki..
Sesuai perkiraan Tour Guide kami, Kang Andik yang memang orang asli sini, jam 8 pagi ombak mulai mengecil dan kami bersiap-siap untuk memulai perjalanan kami. Spot pertama kami berkunjung ke Pulau Sangalaki. Pulau ini adalah pulau berpantai putih bersih sehingga air lautnya terlihat sangat biru. Kami cukup puas berfoto disini. Alhamdulillah cuaca cerah sehingga foto-foto yang dihasilkan pun cukup memuaskan, yah walaupun jadinya kulit aku jadi tambah menghitam. wkwkwkk..

Lets Jump!
Enaknya emang duduk diam sambil menikmati pemandangan
Sudut lain Pulau Sangalaki


Manta Point

Pulang dari Sangalaki kami hunting Manta atau pari di sekitar Pulau Sangalaki. Ada sih manta-nya, tapi jujur aku nggak berani nyemplung karena ternyata perairan ini dipenuhi oleh ubur-ubur kecil yang menyengat sehingga teman-temanku yang terlanjur menyelam dipenuhi bentol yang cukup gatal. Beruntung kami dapat bertemu dengan spesies Pari yang terkenal dan hampir punah ini. Oke, kita cukup bertemu dari jauh aja ya Bapak Manta.. hehee..
Hellooo Bapak Manta
Ikan pari manta (Manta birostris) adalah salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dari ujung sirip dada ke ujung sirip lainnya mencapai hampir 7 meter (kemungkinan lebih karena ada laporan yang mengatakan bahwa ada manta yang lebar tubuhnya mencapai 9,1 meter). Bobot terberat manta sendiri yang pernah diukur mencapai 3 ton.[1]
Manta dapat ditemukan di lautan tropis di seluruh dunia - kurang lebih antara 35o lintang utara hingga 35o lintang selatan. Persebarannya yang luas dan penampilannya yang unik menyebabkan ikan ini memiliki banyak nama mulai dari "manta Pasifik", "manta Atlantik", "devil fish", hingga "sea devil". Di Indonesia sendiri, pari manta memiliki aneka nama lokal seperti cawang kalung, plampangan, serta pari kerbau[2] (mungkin karena bagian tubuh mirip tanduk di kepalanya sehingga ia dianggap mirip dengan kerbau). (cr : https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_pari_manta)

Si Kakek Penyu..


Pulau Kakaban

Pulau Kakaban yang indah

Menuju Danau Kakaban
Dari Pulau Sangalaki kami menuju Pulau Kakaban tempatnya ubur-ubur. Disini kami berenang bersama ubur-ubur yang sudah berevolusi sehingga tidak mempunyai sengat. Berenang dengan ubur-ubur merupakan pengalaman yang baru bagiku. Subhanallaah betapa indahnya bumi Indonesia ini. Sepertinya Yang Maha Kuasa melimpahkan sedikit keindahan surganya ke negri ini. Bersyukur lahir dan tinggal di negri yang indah, dapat mengenal keindahan lain ciptaan-Nya.


Pulau Kakaban menarik perhatian turis-turis mancanegara dengan beberapa keunikannya, salah satunya adanya danau di pulau tersebut yaitu Danau Kakaban. Yang mana pada danau tersebut diisi oleh campuran dari air hujan dan rembesan air laut dari pori-pori tanah dan membuat suatu habitat endemik yang berbeda pada kebanyakan kawasan danau lain di dunia, selain Danau Kakaban ada satu lagi danau dengan air payau yaitu di Kepulauan Palau, Mikronesia. Di danau Kakaban dapat di temukan jenis ubur - ubur yang tidak menyengat, diperkirakan ribuan tahun yang lalu ubur - ubur tersebut terperangkap dan berevolusi untuk dapat berfotosintesis di mana hampir tidak ada hewan lain mampu melakukannya, ada empat jenis ubur ubur di danau Kakaban antara lain golden Jellyfish dan Moon Jellyfish. Disamping danau Kakaban juga terdapat Kehe Daeng yang artinya Lobang Ikan, disaat air laut surut goa sempit yang semula terendam akan muncul di permukaan sehingga terumbu yang berwarna warni serta serta bintang laut dapat dengan mudah disentuh. (cr : https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Kakaban)

Haii Ubur-Ubur.. sini maiiin


Gua Haji Mangku

Road - Gua Haji Mangku


Gua Haji Mangku ini sangat dekat dengan Pulau Kakaban. Gua ini merupakan gua dengan air seperti danau yang jernih. Cara mencapai danau itu adalah meloncat dari ketinggian kurang lebih 3 meter. Oke fix aku nggak berani. Haha. Katanya, kedalaman air di danau gua ini mencapai 30 m. Memang terlihat spooky banget dari atas.
Katanya sih dulu yang menemukan namanya Pak Haji Mangku, makanya dinamakan seperti ini.

Aku hanya memperhatikan teman-temanku bergilir lompat ke bawah. Malah ada yang ketagihan untuk lompat lagi padahal awalnya ketakutan sampai harus didorong. Kalau dipikir- pikir sekarang sih aku beneran nyesel kenapa dulu nggak lompat, padahal bisa pakai pelampung juga. Cuma entah kenapa perasaan spooky banget deh ini tempat, selain airnya juga dalam loh yaa. Pokoknya kamu harus merasakan sendiri deh soalnya aku nggak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Kalau disuruh balik lagi kesini... mauuu banget deeh.. beneran nggak bohong!

Gua Haji Mangku


Hidden Paradise

Bersantai di Hidden Paradise.. Hmm..
Kenapa disebut hidden paradise? karena memang letaknya yang tersembunyi.. hehe.. Hidden Paradise ini merupakan lagoon di salah satu kepulauan ini. Aku lupa nama pulaunya. Cara masuk ke hidden paradise ini ada semacam terowongan di bawah karang jika air sedang surut, akan tetapi jika sedang pasang seperti saat kami kesini, kami harus memanjat lewat tangga seadanya untuk mencapai lagoon ini. Walau lecet-lecet karena batu karang yang tajam, pemandangan hidden paradise ini cukup menggantikan dan tidak mengecewakan.

Sepiiiiii.. yeaaay
Hidden Paradiiseeeee

Pulau Maratua
Sunset di Pulau Maratua
Menjelang senja kami mampir kesini, tepatnya di Paradise Maratua Resort. Satu hal yang aku catat disini, resort ini nggak ada mushollanya. Hanya ada beberapa kamar yang kebetulan semuanya berpenghuni dan  areanya terbuka tidak ada lorong yang agak tersembunyi. Pelayannya menawarkan untuk shalat di tengah jalan di samping toilet yang langsung aku tolak. Berhubung udah mau maghrib dan aku belum zhuhur juga, akhirnya aku memutuskan untuk shalat di dalam boat yang ketika itu kosong.

Sunsetnya seakan memanggil untuk pulang..

Pemandangan sunset di Pulau ini cukup menjanjikan. Terkadang ada penyu juga yang lewat di bawah resort ini. Aku urung berenang karena cukup lelah seharian berenang. Akhirnya aku hanya menikmati sunset yang kemerahan. Menjelang malam kami kembali ke derawan, khawatir ombaknya bertambah besar.

Sunset on Maratua


16 Agustus 2016

Gusung Pasir Derawan
HUT RI 2016! with fotografer pribadi aku.. Eby
Yeaay merah putih berkibaar

Kesan pertama menginjakkan kaki di gusung pasir ini adalah seperti berada di dunia lain. Saking terpesonanya aku merasa dadaku sesak. Perasaan seperti tersesat dalam keindahan yang menakjubkan. Ya Allah indah banget. Saat tiba disini alhamdulillah sedang sepi pengunjung, hanya grup kami. Menikmati, aku hanya duduk diam di atas hamparan pasir putih. Pengennya sih gelar tiker sambil buka bekal piknik, tapi panas banget sih. Hahahaa..

Berhubung kami berkunjung ke Kepulauan Derawan ini dalah rangka liburan Hari Ulang Tahun negara tercinta Indonesia, kami berfoto menggunakan bendera Merah Putih yang dibawa oleh tour guide kami. Bangga menjadi bagian negri indah ini? Kalau aku sih iyaa.. banget.. alhamdulillaaah..

Di pulau ini kami mampir cukup lama karena memang seakan tidak puas-puasnya mengabadikan pulau indah ini. Pulaunya bersih bebas sampah loh, mudah-mudahan tetap seperti ini yaa..

Hasil karya fotografer pribadi aku.. Nona Eby.. hehee..
Sudut lain Gusung Pasir Derawan yg diambil Eby.


Snorkeling
Si Empus yg pengen ikan

Salah satu kegiatan wisata pantai ya Snorkeling yaa.. rugi kalau nggak sempat nyebur. Ada banyak spot snorkeling disini. Semuanya bagus dan memang aku suka bermain dengan ikan sih.. kadang curhat juga sama ikan, makan bareng ikan, sampai selfie bareng..

Ikaaaaannn..

Ikan-ikan disini beraneka ragam, sekalinya kita bawa roti, pasti mereka langsung berebutan nyamperin kita.. padahal aku juga laper kan yaa.. Sedih sih berpisah dengan ikan.. lain kali kita pasti berjumpa lagi kan yaa...

Spot Snorkeling di Derawan

Keliling Pulau Derawan

Siangnya kami sudah balik ke penginapan dan istirahat. Sorenya kami berkeliling pulau menggunakan sepeda. Lumayan juga muterin pulau ini, sampai keringat bercucuran. Aku mampir ke tempat oleh-oleh untuk membeli gelang "Akar Bahar" titipan temenku. Ternyata, gelang itu merupakan salah satu gelang "mistis dan bertuah" disana. Aku yang tidak tahu menahu sampai diintrogasi sama penjualnya karena mau beli gelang itu. Aku ditanya gelangnya mau digunakan sebagai apa, dll. Aku jujur bilang tidak tahu, akhirnya penjualnya menjelaskan panjang lebar kegunaan gelang itu. Waduh...

Bersepeda Keliling Pulau Derawan

17 Agustus 2017
Yeaaay Berau
Aku beserta rombongan pesawat jam 12 berangkat pagi-pagi dari Derawan. Sisanya berangkat siang. Sekitar jam 10 kami sudah sampai di Bendara Berau. Aku naik pesawat ATR dari Berau ke Balikpapan. Pengalaman naik ATR pertama kali, deg-deg an waktu pramugarinya bilang nggak boleh pindah-pindah tempat duduk untuk menjaga keseimbangan pesawat, bahkan untuk penempatan bagasi kabin pun diatur sama pramugarinya. Hiiyy. Untuk aku yang bisa dibilang takut naik pesawat, aku merasa beruntung bisa ketiduran di pesawat ini dan bangun ketika pesawat mau landing *mungkin saya lelah kaka...

Okeee.. sampai jumpa di trip selanjutnyaaa

No comments:

Post a Comment

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...