Thursday, 13 October 2016

Mengunjungi Negeri Tulung Agung 22-23 April 2016

Jumpa lagi travellers!

Kali ini kita akan merambah daerah Jawa timur-an, yaitu Tulungagung. Sohib saya, Galuh Pratiwi, yang sebelumnya melempar kejutan di Jogja (baca posting : Travelling Jogja - Magetan) akan melangsungkan pernikahannya di sini.

Spoiler wajah pengantennya.. Teteep aja begini di nikahan orang.. ahahaha..

Spoiler Ekowisata Mangrove Cengrong
21 April 2016

Janjian sama dek Molly di stasiun Pasar Senen jam 5 sore karena kita akan naik kereta Majapahit ke Tulung Agung. Btw, ini kereta ekonomi seharga 220rb, jadi masing-masing PP 440rb (informasi aja, tiket gajayana sekali jalan 535rb saat itu). Setengah 7 malam kami berangkat dan rencana tiba di stasiun Tulung Agung jam 7.30 pagi. Tambahan, acara akad mulai jam 8 pagi dan jarak tempuh ke Rumah Galuh dengan kecepatan normal bukan ala Michael Schummacer adalah sekitar 30 menit.
Masalah yg ini akan aku ceritain nanti yaaa.. wkwkwkkwk..

Malamnya aku sama Molly kedinginan di gerbong yg ber AC tapi nggak dapet fasilitas selimut. Akhirnya kami ke gerbong makan mencari kehangatan. Kami memesan minuman hangat sambil menyelesaikan permintaan "SURAT CINTA" buat Galuh sebagai hadiah pernikahannya.

Evolusi aku dan Molly.. berasa Pokemon.. wkwkwkk


22 April 2016
Untung sempet liat akad
Pagiiiiii ini adalah awal dari peperangan kami. Jam 5 pagi, kami bergantian bersih-bersih di toilet kereta dan ganti baju pake kebaya. Haaa maluuu banget siiih sebenernya, tapi mau gimana lagi cobaaaa. Bermodal tisu basah dan minyak wangi, nggak bakal ada yang tau lah kalo kita belum mandi *ups. Ditambah lagi.. dengan muka tebel-nya kita minta odol sama ibu-ibu yg lagi ngantri kamar mandi juga. Sambil senyum aku bilang "Bu.. boleh minta satu lagi buat temen sayaa... " ahahahhaahaa..

Selesai bersih-bersih, kami mulai ber-  make-up, bodo amat sama pasangan depan kita yang kayaknya udah mau komen. Peperangan ini diiringi guncangan kereta yang dapat mengakibatkan kerusakan gambar alis yang fatal. Ahahaaa.
Dengan agak keringetan dalam upaya ber-make up di atas guncangan kereta, kami menginjakkan kaki di stasiun Tulung Agung. Tadaaaaaaaa...

Coba dibayangin dulu yaa.. dua orang wanita berkebaya, pake jarik, pake high heels, make-up cantik, tapi bawa tas ransel super gede, turun dari kereta ekonomi, eehhhh parahnya lagi kita nggak dapet peron jadinya  harus lompat dari kereta... kurang menarik perhatian gimana lagi cobaaaaaaaa...

Pantai Pasir Putih yg lagi surut.. tapi kami tetep bahagia.. hahaa
Diiringi tatapan orang-orang sekaligus petugas stasiun yang kayaknya nggak tega ama kita, kita jalan pelan-pelan. Masalahnya gerbong kita jauh dari pintu keluar dan kita keliatan banget susah payah naek ke peron buat jalan keluar. Ya iyalaaahh helloooow kita pake jarik nggak bisa ngelangkah gede-gede apalagi manjat peron plus high heels dan tas ransel *maluuuu.. pengen nangis plus ketawa sebenernya.

Di pintu keluar, ternyata kami belum dijemput dan Bapaknya nggak bisa ditelpon *gini banget kan yaa. Untungnya kami punya nomer Ibunya Galuh dan berhasil minta nomer mobilnya. Sekitar 5 menit kemudian yang berasa seabad karena diliatin orang-orang, akhirnya kami berhasil naik mobil juga. Alhamdulillaaaah...

Setengah jam kemudian kami sampai di rumah Galuh yang ternyata terletak di kaki gunung Budheg. Sampai di sana acara belum berlangsung karena rombongan mempelai pria-nya belum datang. Akhirnya kami langsung ngacir ke kamar Galuh, cipika cipiki dan bertukar cerita. Tak lama, aku dan Molly ikut menyambut kedatangan rombongan pria dan menerima seserahan.


Acara akad berlangsung dengan lancar walaupun si penghulu-nya agak rada-rada. Hahaa. Usai acara akad dan makan-makan tentunya, aku dan Molly disediain mobil buat jalan-jalan. Akhirnya ditemani Indhira sepupunya Galuh dan ternyata juga adek angkatanku di Geofisika UGM, kami memutuskan untuk mengunjungi pantai pasir putih.

Mangrove dimana-manaa
Memakan waktu sekitar 1 jam, kami sampai di pantai pasir putih. Akan tetapi, kebetulan airnya sedang surut, jadinya pantai terlihat kotor karena ganggang. Kami piknik disana sambil menikmati suara musik dari deburan ombak ditemani oleh 1 butir es kelapa murni. Sedaaaaappp..

Setelah kenyang, Indhira mengusulkan untuk mengunjungi hutan mangrove yang tidak jauh dari sini,  yaitu Ekowisata Mangrove Cengrong di Trenggalek. Kami sih ikut aja, yang penting jalan kan. Aku percaya bahwa tempat baru pasti akan menyajikan sesuatu yang baru, entah itu pemandangan alam, makanan, ataupun budaya. Itulah yang membuat aku tertarik mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah aku jamah.


Selama perjalanan ke ekowisata, kami agak khawatir karena hujan turun cukup deras. Akan tetapi ketika kami sampai di TKP, ternyata hujan sudah berhenti dan menyisakan rintik-rintik serta kabut yang menambah keindahan pemandangan kami. Alhamdulillaah Subhanallaah..

Ekowisata ini sepi, mungkin karena baru saja hujan deras. Kami berjalan menulusuri jembatan mangrove, di beberapa tempat sudah diberi papan nama jenis mangrove yang tumbuh disana. Untuk tingkat wisata daerah, ini keren banget. Ekowisata ini terawat dan bersih dari sampah. Kereeeeeennn.. kalian harus mampir kesini kalau pergi ke Tulung Agung atau Trenggalek.


Menjelang malam kami kembali ke rumah Galuh karena besok kami harus ikut resepsi dan harus bangun pagi. Di rumah, kami kembali disajikan makanan khas Tulung Agung, yaitu Ayam Lodho. Kuliner ini sejenis opor ayam, tetapi ayamnya merupakan daging ayam asap, dan kuahnya lebih kering dari opor. Enaaaaakk bangeeeeet. Bertukar cerita sebentar, akhirnya kami terlelap. Lebih tepatnya aku ketiduran duluan. Hahaaa.



23 April 2016
Ini pengantinnya yg rada-rada apa bridesmaidnya yaa..
Jam 4 pagi kami dibangunin Galuh karena akan berangkat ke hotel Narita dimana resepsi akan berlangsung. Aku dan Molly didaftarin juga buat di make up. Jam 5 kami berangkat dan selama perjalanan kabutnya mantep banget. Jarak pandang hanya sekitar 2-3 meter. Tapi itulah yang membuat aku senang karena aku menemukan "something new" pagi ini. Hahahaaa.. *nggak ada lah di Jakarta ceritanya berkabut sampe begini.

Tiba di hotel, kami berganti baju dan mengantri untuk di make-up. Galuh ke kamar hotel yang disediakan untuk rias pengantin. Setelah di make-up dan melihat cermin, aku kaget dan berpikir "Ini wajahnya siapaaaaaaaaa??" Memang kalau make-up profesional hasilnya beda banget ya sama amatiran. Sampe-sampe aku nggak ngenalin mukaku sendiri..

Selama resepsi, yang aku lakukan sama Molly adalah makan dan makan lagi. Setelah bingung mau makan apa lagi, akhirnya kita memutuskan untuk mengunjungi Alun-Alun Tulungagung dan masjidnya naek becak. Di alun-alun ini banyak burung yang dibiarkan bebas. Apalagi kalau kita kasih makan, mereka akan mengerubuti kita. Puas foto-foto dan berkeliling, akhirnya kami kembali ke tempat resepsi dan... makan lagi. Hahaaaa..

Sekitar jam 3 sore kami kembali ke rumah Galuh. Berhubung kereta kami masih jam 9 malam, akhirnya aku dan Molly memutuskan untuk naik Gunung Budheg yang tebingnya berhadapan dengan rumah Galuh. Dari kemarin kita merasa terpanggil kesini sih. Berhubung yg punya rumah nggak suka ketinggian, maka Kami diantar ke pintu masuk pendakian yang ternyata nggak jauh dari rumah Galuh. Melewati pos penjaga, si penjaga cerita kalau MTMA baru saja minggu kemarin syuting disini dan sunset disini bagus banget. Wedeeww.. makin semangat kan yaa..

Jam setengah 5 sore kami baru naik dan ternyata setengah perjalanan waktu sudah menunjukkan jam 5.15. Akhirnya kita memutuskan untuk tidak melanjutkan daripada kemaleman dan nyasar nggak bisa pulang. Di atas, kita mencari spot untuk menikmati sunset. Memang pemandangan dari sini bagus, tapi sayang sunsetnya tertutup awan. Ini pertanda kita harus balik lagi kesini.

Setelah sunset, kami pulang jalan kaki ke rumah Galuh dan kemudian diantar ke stasiun. Sebelumnya, kami mampir makan Bakso Solo dulu di lupa namanya depan stasiun. Berhubung aku dan mas Nanda masih laper, akhirnya kami pindah ke Bakso Kikil deket situ juga. Anyway, kedua bakso ini disarankan oleh temen-temenku dan Galuh sendiri. Enaaaaaak banget baksonya! serius!

Piknik di Gunung Budheg
Setelah makan bakso, kami mampir beli oleh-oleh. Khas-nya Tulungagung ini emang kikil dan sodaranya deh. Soalnya setiap toko oleh-oleh dipenuhi oleh kerupuk kulit berbagai jenis, ukuran dan harga sampai-sampi menutupi oleh-oleh lainnya. Aku membeli satu dan beberapa makanan lainnya. Galuh membelikan kami permen kayu putih (rasanya beneran kayak minyak kayu putih) dan Kopi Brontoseno dari Kediri.
Naahh sekian kisah petualangan aku kali ini di negeri marmer.. insyaallaah lain kesempatan aku bakal balik kesini lagi berhubung masih banyak yg belum aku kunjungi.. salam pesona Indonesia! Mmuuaaccchhh...

Gunung Budheg kala senja...



2 comments:

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...