Thursday, 30 June 2016

Backpacker Nekat ke Palembang 8 - 9 Maret 2016 - Gerhana Matahari Total

Jumpa lagi Travellers..

Jembatan Ampera Malam Hari
Kali ini kami bener-bener nekat lah. Kira-kira sebulan sebelumnya, waktu ada pengumuman GMT yang hanya lewat di Indonesia dan pas banget hari libur Nasional, aku langsung cari tiket di kota terdekat seperti Bangka dan Palembang. Walau harga tiket di keduanya sama, tapi jadwal pesawat yang memungkinkan itu cuma palembang. Cari pasukan yang terdiri dari 4 cewek manis (Mba Maya, Melly dan Fifi), akhirnya kami book tiket pesawat ke Palembang PP seharga 600rb. Lumayan kan?

8 Maret 2016
Pindang Patin
Jajanan sejenis pempek di bakar
Kami tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pada jam 9 malam. Ternyata, di luar bandara sudah tidak ada taksi. Semuanya habis dipesan atau tidak ada yang mau menuju jembatan AMPERA karena macet. Akhirnya kami ditawari sejenis mobil omprengan dengan harga 120rb rupiah. Itupun kami tidak diturunkan di dekat jembatan AMPERA, tapi di sebelah gedung Walikota Palembang. Berbekal bertanya pada teman kami dan GPS, akhirnya kami berjalan kaki menuju jembatan AMPERA sambil menikmati suasana malam kota Palembang.
Jadwal Gerhana Matahari Total di Palembang
Pempek Model
Sepanjang perjalanan ke jembatan, kami berhenti di beberapa spot menarik seperti di depan Benteng Kuto Besak. Pemandangan disini adalah sungai Musi dengan background lampu warna-warni yang berasal dari Jembatan AMPERA. Kami mengambil beberapa foto sambil mencari makanan khas Palembang. Kami menemukan makanan sejenis pempek yang ada isinya dan makannya dicocolkan ke cuko kental. Harganya seribu satu buah.
Kucel bin Kumel tapi teteeep eksiiisss hahaa
Berjalan ke arah Masjid Agung Palembang karena kami berniat bermalam disana.. hehee.. Kami menemukan tempat makan yang masih buka di pinggir jalan. Akhirnya kami makan malam dengan menu pindang patin dan model. Sayang, nasinya udah keras. Mungkin karena sudah malem banget yaa.. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan lagi. Ternyata, di depan Masjid Agung ada MONPERA (Monumen Perjuangan Rakyat). Kami mampir befoto di sana tengah malam. Hahaaa.

MONPERA

Pasca proklamasi kemerdekaan RI, berbagai wilayah di nusantara masih mengalami pergolakan dalam serangan agresi militer Belanda II. Seperti yang terjadi di Palembang pada Desember 1946, Belanda yang melanggar garis demarkasi menyulut pertempuran. Karena terdesak perlawanan pejuang nasionalis, mereka meminta bantuan, yang pada akhirnya membuat para pejuang nasionalis tersudut.
Berpose di Monumen Perjuangan Rakyat Palembang.. Semangaaat!

Pada Januari 1947, Belanda makin gencar menghancurkan Kota Palembang dengan mengerahkan tank dan artileri. Penjajah Belanda juga menembaki pejuang nasionalis dari kapal perang dan boat, menjatuhkan bom serta granat. Pertempuran itu terjadi di hampir seluruh wilayah Kota Palembang selama 5 hari 5 malam dan menghancurkan sebagian kota ini.
Untuk memperingati peristiwa tersebut, para sesepuh pejuang kemerdekaan RI wilayah Sumatera Selatan yang tergabung dalam Legiun Veteran Sumatera Selatan berinisiatif untuk membangun sebuah monumen peringatan. Cita-cita tersebut baru terwujud pada 17 Agustus 1975 dengan dilakukannya upacara peletakan batu pertama pembangunan monumen. Pembangunan monumen selesai pada 1988, yang kemudian diresmikan oleh Alamsyah Ratu Prawiranegara (Menkokesra pada saat itu) dengan nama Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera).
(sumber: http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/monpera-simbol-perjuangan-rakyat-yang-bergelora)

Nah, sekilas tentang MONPERA. Selanjutnya kami menikmati pemandangan air mancur di depan masjid dan bukannya belok ke Masjid. Kami meneruskan berjalan ke arah jembatan AMPERA. Pukul 01.00 dini hari, polisi sudah sibuk menutup jembatan AMPERA buat event besok pagi. Sejumlah kendaraan diminta keluar dari kawasan jembatan karena memang banyak yang parkir dan nongkrong disana, termasuk kami. Heheheee..

Puas menikmati pemandangan jembatan AMPERA, kami kembali menuju Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I. Awalnya kami khawatir tidak boleh masuk, tapi ternyata waktu sampai disana.. sudah ramai banget orang-orang bergelimpangan buka lapak tidur. Hahaaa.. Akhirnya kami masuk dan menemukan lapak.. tapi deket toilet.. hikss..
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Palembang


9 Maret 2016

Gerhana Sebagian
Jam 4 pagi kami sudah bangun dan berencana untuk mandi di kosan teman kami, Syifa, yang kebetulan bekerja sebagai pegawai Kantor Pos setempat. Berbekal koordinat GPS, kami menelusuri gang kecil di samping masjid. Ternyata, kosan dia terletak di seberang kantor walikota Palembang. Hohooo..

Bergantian menumpang mandi, Syifa berangkat terlebih dulu karena dia dan teman-temannya membuka booth di dekat jembatan Ampera. Setelah mandi dan shalat, kami pun berangkat menuju jembatan Ampera jamsetengah 6 pagi. Rencananya sih mau sekalian beli sarapan, tapi ternyata warungnya belum ada yang buka. Kami mencari lapak buat menonton gerhana baru kemudian mencari makan di booth-booth di sekitar jembatan Ampera.


Menjelang Gerhana Matahari Total
Pagi-pagi nongkrong depan Benteng Kuto besak
Pukul 06.20 gerhana sudah mulai tampak. Tapi sayang, pemandangan kami terganggu oleh asap yang berasal dari Pabrik Pupuk. Haduuh. Kami agak khawatir kalau nanti waktu gerhana total kami tidak bisa melihat karena tertutup oleh asap. Tapi alhamdulillaah, tepat jam 07.20 ketika gerhana total terjadi, si Matahari memutuskan nongol di antara asap pabrik dan semua orang langsung tepuk tangan. Lega kali yeee bisa lihat, ternyata bukan cuma aku yang khawatir, wkwkwk.

Momen 2 menit saat Gerhana Matahari Total, habis gemuruh tepuk tangan dan  teriakan, tiba-tiba suasana jadi hening. Pasalnya, langit jadi gelap banget, membuat bulu kuduk aku merinding. Mungkin karena gelapnya tiba-tiba gitu. Suasananya jadi spooky banget. Mungkin itulah kenapa ada mitos kalau Gerhana Total itu membawa ketidakberuntungan, penyakit atau bahkan kiamat. Tapi di Palembang, suasana yang spooky ini dihiasi oleh warna-warni lampu dari jembatan Ampera yang indah. Walaupun aku sudah melihat indahnya kerlap-kerlip jembatan Ampera tadi malam, tapi serius deh feel yang didapat beda banget ketika melihatnya saat Gerhana Matahari Total.
Mampir dulu ke Booth-nya Kantor Pos Palembang

PULAU KEMARO
Jam 8, setelah menikmati suasana Gerhana Matahari Total, kami berencana jalan-jalan. Kami mampir dulu ke booth Kantor Pos. Kemudian akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Pulau Kemaro. Mengunjungi pulau ini kita harus menyeberang selama kurang lebih 30 menit dari muara di depan Benteng Kuto Besak. Awalnya bapaknya meminta harga 200rb PP tapi kami berhasil menawar 120rb PP.

Jembatan Ampera dan Sungai Musi

LEGENDA PULAU KEMARO

Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri,yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah vihara cina (klenteng Hok Tjing Rio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Di sana juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek

Di Pulau Kemaro juga terdapat makam dari putri Palembang, Siti Fatimah. Menurut legenda setempat yang tertulis di sebuah batu di samping Klenteng Hok Tjing Rio, pada zaman dahulu, datang seorang pangeran dari Negeri Cina, bernama Tan Bun An, ia datang ke Palembang untuk berdagang. Ketika ia meminta izin ke Raja Palembang, ia bertemu dengan putri raja yang bernama Siti Fatimah. Ia langsung jatuh hati, begitu juga dengan Siti Fatimah. Merekapun menjalin kasih dan berniat untuk ke pelaminan. Tan Bun An mengajak sang Siti Fatimah ke daratan Cina untuk melihat orang tua Tan Bun Han. 
Setelah beberapa waktu, mereka kembali ke Palembang. Bersama mereka disertakan pula tujuh guci yang berisi emas. Sesampai di muara Sungai Musi Tan Bun han ingin melihat hadiah emas di dalam Guci-guci tersebut. Tetapi alangkah kagetnya karena yang dilihat adalah sayuran sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang ia membuang guci-guci tersebut kelaut, tetapi guci terakhir terjatuh diatas dek dan pecah. Ternyata didalamnya terdapat emas. Tanpa berpikir panjag lagi ia terjun ke dalam sungai untuk mengambil emas-emas dalam guci yang sudah dibuangnya. Seorang pengawalnya juga ikut terjun untuk membantu, tetapi kedua orang itu tidak kunjung muncul. Siti Fatimah akhirnya menyusul dan terjun juga ke Sungai Musi. Untuk mengenang mereka bertiga dibangunlah sebuah kuil dan makam untuk ketiga orang tersebut.
(sumber: wikipedia)



Pempek Lenggang
Dari Pulau Kemaro, kami mengunjungi jalan Mujahidin yang isinya toko pempek semua. Kami masuki salah satunya yang paling dekat dan ternyata enak. Kayaknya sih semuanya enak deh, jadi pilih aja salah satunya. Kalau nggak yakin cari aja yang kira-kira ramai pengunjungnya. Hehee. Pokoknya sepanjang jalan itu adalah bermacam-macam toko pempek, mau dicobain satu-satu juga boleh asal muat perutnya. wkwkwk. Oh iya jangan lupa untuk mencoba menu es kacang merahnya yaaa..

Pagoda di Pulau Kemaro
Selesai mencoba makanan paling khas dari Palembang ini, kami menuju Bandara. Di perjalanan kami mampir ke Pempek Candy untuk beli oleh-oleh. Tiba di bandara, ternyata pesawat kami delay. Hahaa. Akhirnya kami duduk-duduk saja di bandara yang lumayan nyaman. Ada kursi pijatnya juga loh!

Nah, sekian perjalanan absurd kita kali ini.. sampai jumpa di perjalanan berikutnya!
Ada Sultan Mahmud di Uang 10rb.. hehehe..


REKAPITULASI KEUANGAN
  1. Tiket pesawat Lion Air PP                            Rp600rb
  2. Charter mobil ke Ampera 120rb/4               Rp  30rb
  3. Cemilan di jalan                                             Rp  20rb
  4. Makan Malam                                                Rp  30rb
  5. Sewa Kapal ke Kemaro  120rb/4                 Rp  30rb
  6. Makan Pempek                                              Rp  25rb 
  7. Taksi ke Bandara  180rb/4                            Rp  45rb
  8. TOTAL                                                           Rp775rb 

1 comment:

Amazing Lombok and Rinjani 6 - 12 Agustus 2017

Rinjani? Gunung impianku sejak mendengar namanya pertama kali saat Annas mengajakku saat masih kuliah di Geofisika UGM dulu. Gunung yan...